Kerikil.id | Indramayu – Siapa sangka, di sebuah warung sederhana yang berdiri di pinggir jalan Blok Kamplong, Desa Drunten Wetan, Kecamatan Gabuswetan, tepatnya di tanjakan menuju Jenguk, tersimpan cita rasa yang membuat banyak pelanggan rela kembali lagi. Di sanalah Cartiwen, seorang pelaku usaha kuliner rumahan, merintis usahanya dengan penuh kesabaran, kerja keras, dan kecintaan terhadap dunia masak.
Tanpa kemewahan bangunan ataupun promosi besar-besaran, warung milik Cartiwen justru dikenal dari mulut ke mulut. Aroma ayam bakar yang mengepul dari tungku pembakaran sering kali membuat pengendara yang melintas memilih berhenti sejenak untuk menikmati hidangan yang baru dimasak.
Beragam menu rumahan tersaji setiap hari, mulai dari ayam bakar, ayam goreng, lele goreng, pecel lele, hingga ikan bakar. Untuk menemani santapan, tersedia pula minuman segar seperti es jeruk dan es teh yang menjadi favorit pelanggan.
Di balik kelezatan setiap hidangan, Cartiwen tetap memegang satu prinsip, yakni menjaga kualitas tanpa mengorbankan harga yang terjangkau. Seluruh masakannya menggunakan bahan-bahan segar yang dipilih sendiri, dipadukan dengan racikan bumbu alami yang menjadi ciri khas warungnya.
Bumbu oles untuk menu bakaran diracik dari perpaduan jahe, lengkuas, kunyit, kemiri, kacang tanah yang telah dimatangkan, serai, dan daun jeruk. Perpaduan rempah-rempah tersebut menghasilkan aroma harum dan cita rasa gurih yang meresap hingga ke dalam daging.
“Saya hanya ingin menyajikan masakan yang enak, bersih, dan harganya terjangkau. Alhamdulillah, pelanggan yang sudah pernah datang banyak yang kembali lagi karena cocok dengan rasanya,” ujar Cartiwen saat ditemui di warungnya.
Menurutnya, mempertahankan pelanggan jauh lebih penting daripada sekadar mengejar keuntungan besar. Karena itu, ia memilih tetap menjaga kualitas rasa sekaligus mempertahankan harga yang bersahabat.
“Keuntungan besar bukan tujuan utama saya. Yang penting pelanggan bisa makan enak dengan harga yang lebih ringan dibandingkan tempat lain. Kalau mereka puas lalu datang kembali, itu sudah menjadi kebahagiaan bagi saya,” tuturnya.
Lokasi warung yang berada di jalur menuju Jenguk menjadi keuntungan tersendiri. Setiap hari, warga sekitar maupun pengendara yang melintas kerap singgah untuk menikmati hidangan hangat yang baru selesai dimasak.
Tak sedikit pelanggan yang mengaku pertama kali mampir karena penasaran dengan aroma masakan, namun kemudian menjadi pelanggan tetap karena terpikat oleh cita rasanya.
Bagi Cartiwen, setiap pelanggan yang datang bukan sekadar pembeli, melainkan bagian dari perjalanan usahanya yang dibangun dari nol dengan penuh perjuangan. Ia percaya bahwa kejujuran dalam berdagang, menjaga kebersihan, mempertahankan kualitas, serta melayani pelanggan dengan ramah menjadi modal utama agar usaha kecilnya terus bertahan.
Di tengah persaingan usaha kuliner yang semakin ketat, kisah Cartiwen menjadi bukti bahwa kesungguhan, ketekunan, dan kualitas rasa masih menjadi resep terbaik untuk memenangkan hati pelanggan.
Warung sederhana di tanjakan Jenguk itu kini bukan hanya menjadi tempat menikmati ayam bakar bercita rasa khas, tetapi juga menjadi simbol perjuangan seorang perempuan yang mengubah dapur kecilnya menjadi sumber harapan bagi keluarga sekaligus destinasi kuliner rumahan yang terus dicari masyarakat Gabuswetan dan sekitarnya.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi
Sumber: Wawancara dengan Cartiwen, pemilik warung kuliner.
