Site icon KERIKIL.ID

Dugaan Pelecehan Siswa SMP di Haurgeulis Memicu Amarah Warga, Terduga Pelaku Diamankan Polisi

Kerikil.id, Indramayu – Rasa tenang yang selama ini menyelimuti kehidupan para orang tua di Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, mendadak berubah menjadi kecemasan.

Dugaan kasus pelecehan terhadap sejumlah siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) bukan hanya menyita perhatian publik, tetapi juga mengguncang rasa aman keluarga yang selama ini mempercayakan pendidikan anak-anak mereka pada lingkungan sekolah.

Kabar itu berawal dari pengakuan beberapa siswa yang berani bercerita kepada keluarga. Cerita yang awalnya terdengar samar, perlahan berubah menjadi kekhawatiran besar. Para orang tua pun dihadapkan pada kenyataan pahit: anak-anak mereka diduga mengalami perlakuan tidak pantas dari sosok yang seharusnya menjadi pembimbing dalam kegiatan ekstrakurikuler.

“Sebagai orang tua, kami sangat terpukul. Yang kami pikirkan sekarang hanya bagaimana anak-anak bisa kembali merasa aman,” ungkap salah satu keluarga korban dengan suara lirih, meminta identitasnya dirahasiakan.

Keresahan yang memuncak akhirnya mendorong warga dan keluarga korban mendatangi rumah terduga pelaku pada Jumat (10/4/2026).

Emosi yang telah lama tertahan nyaris meledak. Suasana sempat memanas, mencerminkan betapa dalamnya luka dan kemarahan yang dirasakan.

Namun, situasi berhasil dikendalikan setelah aparat desa setempat turun tangan. Terduga pelaku kemudian diamankan dan dibawa ke Polsek Haurgeulis guna mencegah terjadinya tindakan yang tidak diinginkan.

Kasi Pelayanan Desa Sumbermulya, Subandi, mengatakan pihaknya segera bergerak setelah menerima laporan warga terkait adanya keributan.

“Kami berupaya menenangkan situasi dan membawa yang bersangkutan ke Polsek untuk diamankan sementara,” ujarnya.

Di sisi lain, terduga pelaku membantah tuduhan yang diarahkan kepadanya. Ia menyebut dugaan perbuatan tersebut dilakukan oleh orang lain yang dikenalnya dalam komunitas bela diri.

Pernyataan tersebut kini menjadi bagian dari proses pendalaman yang tengah dilakukan pihak berwenang.

Di balik dinamika yang terjadi, ada cerita yang lebih dalam dan tak selalu terlihat. Anak-anak yang diduga menjadi korban kini membutuhkan lebih dari sekadar keadilan mereka membutuhkan ruang aman untuk pulih.

Sementara itu, para orang tua berjuang menguatkan diri, berusaha memastikan bahwa trauma yang mungkin muncul tidak berlarut-larut.

Sejumlah pihak menilai, pendampingan psikologis bagi anak menjadi hal yang sangat penting dalam situasi seperti ini. Selain penegakan hukum, pemulihan mental korban dinilai harus menjadi prioritas agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan dengan rasa percaya diri dan aman.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap fakta sebenarnya. Masyarakat pun diimbau untuk tetap tenang serta tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu proses hukum.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa lingkungan pendidikan harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk tumbuh dan berkembang. Ketika rasa aman itu terusik, bukan hanya anak yang terdampak, tetapi juga kepercayaan seluruh masyarakat yang ikut terguncang.

Penulis : Redaksi
Editor: Redaksi.                                    Sumber: Wawancara Langsung

Exit mobile version