Saat Haurgeulis Mematikan Lampu Sejenak, Cahaya Obor Menyatukan Warga

Foto: Redaksi Kerikil.id
banner 468x60

Kerikil.id | Indramayu – Malam belum terlalu larut ketika halaman Kantor Kecamatan Haurgeulis mulai dipenuhi warga. Di antara barisan peserta, tampak pelajar dengan seragamnya, anggota Pramuka, guru, aparatur sipil negara, hingga personel TNI dan Polri. Mereka datang bukan untuk sekadar melihat upacara, melainkan ikut membawa sebuah tradisi yang setiap tahun kembali hadir menjelang peringatan kemerdekaan.

Minggu malam (16/8/2026), halaman Kantor Kecamatan Haurgeulis menjadi titik awal Upacara Taptu dan Pawai Obor dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Sekitar pukul 19.30 WIB, suasana yang sebelumnya dipenuhi percakapan warga berubah lebih khidmat. Kapolsek Haurgeulis AKP Saefullah, S.H., M.A. bertindak sebagai inspektur upacara.

Tak lama kemudian, sebuah obor utama dinyalakan. Api kecil itu menjadi tanda dimulainya perjalanan ratusan peserta menyusuri jalan-jalan protokol Kecamatan Haurgeulis.

Cahaya obor perlahan bergerak membentuk barisan panjang. Di tengah gelapnya malam, nyala api dari tangan para peserta tampak mencolok. Lagu-lagu perjuangan ikut dikumandangkan sepanjang perjalanan, membuat suasana malam di Haurgeulis terasa berbeda.

Bagi sebagian pelajar yang ikut dalam barisan, pawai tersebut mungkin menjadi pengalaman sederhana tetapi berkesan. Mereka tidak hanya mendengar cerita tentang perjuangan dari buku pelajaran, tetapi merasakan suasana peringatan kemerdekaan melalui sebuah tradisi yang dilakukan bersama masyarakat.

Di sisi lain, kehadiran orang tua, guru, aparat, pemuda, dan berbagai elemen masyarakat membuat pawai itu terasa seperti sebuah pertemuan besar warga Haurgeulis.

Kapolsek Haurgeulis AKP Saefullah mengatakan Taptu dan pawai obor tidak semestinya dipandang hanya sebagai agenda tahunan.

Menurutnya, nyala obor dapat menjadi simbol untuk mengingat kembali perjuangan para pendahulu sekaligus merawat semangat kebersamaan yang dibutuhkan masyarakat.

“Melalui nyala api obor ini, kita ingin mengobarkan kembali semangat nasionalisme, gotong royong, dan memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat,” ujar Saefullah dalam sambutannya.

Ia juga mengingatkan peserta agar menjaga keamanan dan ketertiban selama pawai berlangsung. Pesan tersebut menjadi penting karena rombongan bergerak pada malam hari dan melintasi sejumlah jalan yang digunakan masyarakat.

Bagi warga yang berada di sepanjang rute, iring-iringan obor menjadi tontonan tersendiri. Barisan peserta bergerak bersama, membawa cahaya kecil yang jika dilihat dari kejauhan berubah menjadi deretan titik terang di tengah malam.

Tidak ada kemewahan dalam tradisi tersebut. Hanya obor, langkah kaki, lagu perjuangan, dan warga yang berjalan bersama.

Namun justru dari kesederhanaan itulah suasana kemerdekaan terasa dekat.

Taptu dan Pawai Obor kemudian berakhir di halaman Kantor Kecamatan Haurgeulis. Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan tertib setelah peserta menyelesaikan rute yang telah ditentukan.

Api obor akhirnya padam, tetapi pesan yang dibawanya diharapkan tidak ikut hilang. Sebab bagi masyarakat Haurgeulis, memperingati kemerdekaan bukan hanya tentang mengingat tanggal 17 Agustus, melainkan juga tentang menjaga kebersamaan yang membuat kehidupan di tengah masyarakat tetap menyala.

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Kerikil.id
Sumber: Peliputan kegiatan Taptu dan Pawai Obor Kecamatan Haurgeulis, 16 Agustus 2026

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *