Hari Santri 2026 di Haurgeulis: Dari Tradisi Pesantren Menuju Pengabdian untuk Negeri

Foto: Redaksi Kerikil.id
banner 468x60

Kerikil.id |Indramayu — Menjadi santri hari ini bukan hanya soal mengaji dan menjaga tradisi pesantren. Tantangan zaman menuntut generasi santri memiliki ilmu pengetahuan, karakter yang kuat, serta kemampuan memberi manfaat bagi masyarakat.

Pesan itu mengemuka dalam peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Alun-Alun Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Kamis (22/10/2026).

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Ratusan santri, pelajar, dan tokoh masyarakat mengikuti upacara yang diinisiasi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Haurgeulis. Kapolsek Haurgeulis, AKP Saefullah, memimpin langsung jalannya upacara sekaligus mengajak peserta memaknai Hari Santri bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum memperkuat kontribusi bagi bangsa.

Dalam amanatnya, Saefullah mengingatkan bahwa perjuangan santri terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Jika generasi terdahulu berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, generasi sekarang memiliki tanggung jawab mengisi kemerdekaan melalui pendidikan, karya, integritas, dan pengabdian.

“Jika dulu perjuangan dilakukan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka hari ini perjuangan dilanjutkan untuk mengisi kemerdekaan dengan ilmu, karya, integritas, dan pengabdian,” ujar Saefullah.

Bagi santri dan pelajar yang hadir, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa nilai-nilai pesantren perlu berjalan beriringan dengan kemampuan menghadapi perkembangan zaman. Keimanan dan akhlak tetap menjadi fondasi, sementara penguasaan ilmu serta keterampilan menjadi bekal untuk berkontribusi lebih luas.

Saefullah mengajak para santri menjadikan HSN 2026 sebagai kesempatan memperbarui tekad, memperkuat iman, memperluas wawasan, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan kapasitas diri.

Ia juga menekankan pentingnya memperbesar manfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, pendidikan yang diperoleh di pesantren maupun sekolah tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi diwujudkan melalui sikap, perilaku, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan itu sekaligus menempatkan santri sebagai bagian dari generasi yang diharapkan mampu menjawab tantangan global tanpa kehilangan jati diri dan nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.

Upacara tersebut turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Haurgeulis, pengurus MWC NU, tokoh lintas agama, para kepala desa atau kuwu, serta tokoh masyarakat setempat.

Kehadiran berbagai unsur masyarakat itu menjadi ruang untuk menegaskan pentingnya kebersamaan dalam merawat kehidupan sosial yang harmonis. Nilai persatuan, menurut pesan yang disampaikan dalam upacara, perlu diwujudkan melalui tindakan dan kepedulian, bukan hanya diucapkan dalam peringatan tertentu.

Di akhir amanatnya, Saefullah mengingatkan agar tradisi pesantren tetap hidup dalam praktik sehari-hari, ilmu tidak berhenti sebagai hafalan, dan persatuan tidak sekadar menjadi slogan.

“Jangan biarkan tradisi hanya menjadi kenangan, jangan biarkan ilmu berhenti menjadi hafalan. Jangan biarkan persatuan hanya menjadi semboyan. Mari kita rawat akar, kita kuatkan karakter, kita majukan peradaban, dan kita jaga Indonesia,” tegasnya.

Peringatan Hari Santri Nasional di Haurgeulis membawa harapan agar para santri tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, berintegritas, dan mampu beradaptasi dengan perubahan. Mereka diharapkan tidak hanya menjaga warisan keagamaan, tetapi juga mengambil peran dalam pendidikan, kehidupan sosial, dan pembangunan bangsa.

Pada akhirnya, makna Hari Santri tidak hanya terlihat dari upacara dan pesan yang disampaikan di lapangan. Nilainya akan terasa ketika ilmu diterapkan, akhlak tercermin dalam perilaku, dan kepedulian diwujudkan melalui pengabdian kepada masyarakat.

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Kerikil.id
Sumber: Liputan Langsung

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *