PALANGKA RAYA | Suasana Pasar Ramadan di Palangka Raya semakin semarak dengan hadirnya kue tradisional khas Kalimantan, Bingka Kentang, yang menjadi salah satu takjil favorit masyarakat selama bulan suci.
Seorang pedagang tampak sibuk melayani pembeli yang silih berganti memilih kue berwarna kuning keemasan tersebut. Aroma harum santan dan kentang panggang yang khas menggoda siapa saja yang melintas, menjadikan lapak Bingka Kentang tak pernah sepi pengunjung, terutama menjelang waktu berbuka puasa.
Bingka Kentang merupakan kue tradisional Ramadan yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat di wilayah Kalimantan Tengah. Kue ini terbuat dari bahan utama kentang yang dihaluskan, kemudian dicampur dengan santan, telur, kelapa parut, gula, dan sedikit garam untuk menciptakan perpaduan rasa manis dan gurih yang khas.
Proses pembuatannya pun masih mempertahankan cara tradisional, yakni dipanggang atau dikukus hingga matang sempurna. Teksturnya yang lembut di dalam dengan lapisan luar yang sedikit karamel menjadi ciri khas yang membedakannya dari kue lainnya.
Selama Ramadan, Bingka Kentang dijual dengan harga sekitar Rp30 ribu per buah. Meski tergolong sederhana, kue ini memiliki nilai budaya yang tinggi karena selalu hadir sebagai hidangan berbuka puasa bersama keluarga.
“Setiap Ramadan pasti cari Bingka Kentang. Rasanya beda, ada nostalgia dan tradisinya,” ujar salah seorang pembeli.
Keberadaan Bingka Kentang di Pasar Ramadan tidak hanya menjadi sajian kuliner, tetapi juga simbol kekayaan warisan lokal yang terus hidup di tengah modernisasi. Dari generasi ke generasi, kue ini tetap menjadi pengikat kenangan, menghadirkan rasa hangat kebersamaan dalam setiap gigitan saat azan magrib berkumandang. (*)


















