Site icon KERIKIL.ID

Carya Sang Pelukis Kelir Sandiwara Menanti Seni Rakyat Kembali Dikenang

Foto: Ade Nur/Min.co.id

Kerikil.id | Indramayu – Di sebuah rumah sederhana di Blok Kamplong Gang Bor, Desa Druntenwetan, Kecamatan Gabuswetan, tersimpan kisah tentang keteguhan seorang seniman menjaga warisan budaya. Namanya Carya, pelukis dekor dan kelir sandiwara tradisional yang selama lebih dari empat dekade mengabdikan hidupnya untuk dunia seni pertunjukan rakyat.

Usianya memang tak lagi muda. Namun, semangat dan kecintaannya terhadap seni melukis masih menyala, sama seperti ketika pertama kali memegang kuas pada tahun 1984. Di tengah derasnya arus modernisasi yang membuat panggung-panggung sandiwara tradisional mulai sepi, Carya memilih tetap bertahan dengan karya yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Dulu, hampir setiap hari rumahnya dipenuhi pesanan. Tangannya begitu akrab dengan kuas dan cat, menciptakan berbagai dekor panggung dan kelir sandiwara yang menjadi latar pertunjukan seni rakyat di berbagai daerah. Baginya, melukis bukan sekadar pekerjaan untuk mencari nafkah, melainkan cara menjaga denyut budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Dengan ketelitian dan pengalaman yang dimiliki, Carya mengerjakan kelir sandiwara menggunakan cat metrolik, sementara dekor berbahan kayu dipercantik dengan cat kuda terbang. Hasil karyanya pernah dipercaya oleh banyak kelompok kesenian yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat Indramayu dan sekitarnya.

Bahkan, pada tahun 1987, kemampuan yang dimilikinya membawanya mendapat kesempatan melukis di Galeri Kebon Jeruk, sebuah pengalaman yang hingga kini masih tersimpan rapi dalam ingatannya.

Namun, waktu terus berjalan. Popularitas sandiwara tradisional mulai tergeser oleh hiburan modern. Pesanan yang dahulu datang silih berganti kini perlahan menghilang. Rumah yang dulu menjadi tempat lahirnya berbagai karya seni kini lebih sering dipenuhi kesunyian.

Meski demikian, Carya tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia yang membesarkan namanya. Peralatan melukis masih tersimpan rapi di rumahnya. Tangannya masih terampil memainkan kuas, dan semangat untuk berkarya tak pernah padam. Hanya saja, banyak orang mengira dirinya sudah berhenti melukis.

Saat ditemui di kediamannya, Jumat (12/6/2026), Carya tampak mengenang masa-masa ketika dirinya sibuk menyelesaikan pesanan dekor dan kelir untuk berbagai kelompok sandiwara. Sorot matanya berbinar saat menceritakan perjalanan panjang yang telah dilaluinya.

“Banyak yang mengira saya sudah tidak aktif lagi. Padahal saya masih bisa melukis dan masih ingin melukis. Sampai sekarang saya tetap siap kalau ada yang membutuhkan jasa saya,” ujarnya lirih.

Kenangan itu membawanya kembali ke masa ketika karya-karyanya menghiasi panggung-panggung sandiwara rakyat. Salah satu yang masih melekat di benaknya adalah saat dirinya dipercaya membuat dekor dan kelir untuk kelompok sandiwara legendaris Jaya Buana.

“Banyak sandiwara yang sekarang namanya sudah dikenal masyarakat, dulu saya yang melukis dekor dan kelirnya. Saya sudah melukis sejak zaman sandiwara Jaya Buana,” kenangnya.

Pada masa kejayaannya, satu set dekor sandiwara dapat dihargai sekitar Rp400 ribu, sedangkan satu kelir mencapai Rp600 ribu. Dari hasil itulah Carya menghidupi keluarga sekaligus ikut menjaga denyut kehidupan seni pertunjukan tradisional yang kala itu menjadi hiburan favorit masyarakat.

Namun, bagi Carya, yang paling menyedihkan bukanlah berkurangnya pesanan. Yang lebih menyayat hati adalah ketika kemampuan dan dedikasi yang telah dibangun selama puluhan tahun perlahan seperti terlupakan oleh zaman.

Di usianya kini, ia hanya ingin masyarakat mengetahui bahwa dirinya masih ada, masih mampu berkarya, dan masih setia menjaga warisan budaya melalui goresan kuasnya. Jika suatu hari ada yang datang membawa pesanan, ia mengaku akan menerimanya dengan hati yang bahagia.

“Harapan saya sederhana, semoga masyarakat tahu bahwa saya masih aktif melukis. Mudah-mudahan setelah berita ini terbit, ada yang kembali mempercayakan pekerjaan melukis kepada saya,” tuturnya penuh harap.

Kisah Carya adalah potret tentang ketulusan seorang seniman yang memilih bertahan di tengah perubahan zaman. Ia mungkin tak lagi berdiri di panggung utama, tetapi dedikasinya telah menjadi bagian dari sejarah seni rakyat Indramayu. Selama tangannya masih mampu menggenggam kuas dan menggoreskan warna, harapan itu akan terus hidup—bahwa suatu hari, karya-karya tradisional dan para pelestarinya kembali mendapat tempat di hati masyarakat.

Penulis: Ade Nur
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Wawancara langsung

Exit mobile version