Kerikil.id | Indramayu – Di tengah arus perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, pendidikan kembali menjadi perhatian utama dalam membangun masa depan bangsa. Di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, sebuah gagasan besar tentang masa depan pendidikan Indonesia mendapat dukungan dari berbagai kalangan, termasuk Pemerintah Kabupaten Indramayu.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Indramayu, Caridin, menyatakan dukungannya terhadap gagasan pembangunan 500 pusat pendidikan berasrama terintegrasi di seluruh Indonesia yang dibahas dalam Simposium Pendidikan Indonesia, Senin (1/6/2026).
Kegiatan bertema “Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama yang Terintegrasi Demi Terwujudnya Indonesia Modern di Abad XXI dan Usia 100 Tahun Kemerdekaan” itu merupakan kelanjutan dari Konferensi Pendidikan Indonesia yang sehari sebelumnya menghadirkan sekitar 50 profesor, guru besar, dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Forum tersebut melahirkan sebuah deklarasi besar tentang pentingnya transformasi pendidikan nasional melalui pembangunan sistem pendidikan berasrama yang terintegrasi sebagai langkah strategis mencetak generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Caridin mengaku terkesan dengan berbagai pemikiran dan kajian yang dipaparkan para profesor dalam forum tersebut.
“Saya ditugaskan oleh Pak Bupati untuk menghadiri Simposium Pendidikan Indonesia. Alhamdulillah, berbagai hasil kajian yang disampaikan para profesor sangat luar biasa dan menjadi masukan penting untuk pengembangan pendidikan Indonesia ke depan,” ujarnya.
Menurutnya, berbagai ide yang lahir dari forum tersebut layak menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam menyusun kebijakan pendidikan yang adaptif terhadap tantangan global.
Ia menegaskan, seluruh hasil simposium akan disampaikan kepada Bupati Indramayu sebagai bagian dari masukan strategis dalam pengembangan pendidikan daerah.
“Ini merupakan hasil kajian para profesor dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Bukan hanya penting untuk Indramayu, tetapi juga menjadi gagasan besar bagi kemajuan pendidikan nasional,” katanya.
Salah satu gagasan yang menjadi sorotan dalam simposium tersebut adalah pembangunan 500 pusat pendidikan berasrama berbasis pendekatan L-STEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, and Spiritual).
Konsep tersebut dinilai mampu menjawab berbagai tantangan pendidikan modern, termasuk pengaruh media sosial, budaya instan, hingga menurunnya fokus belajar generasi muda.
“Saat ini anak-anak menghadapi banyak distraksi, mulai dari media sosial hingga permainan digital. Dengan sistem pendidikan berasrama, proses pembinaan karakter dan pendidikan akan lebih terarah sehingga kualitas pendidikan dapat meningkat secara signifikan,” jelas Caridin.
Ia juga menilai konsep pendidikan yang selama ini dikembangkan Al-Zaytun memiliki visi yang sejalan dengan kebutuhan pendidikan masa depan Indonesia.
“Ternyata Al-Zaytun memiliki visi yang sangat baik dalam menghadirkan pelayanan pendidikan yang terintegrasi, visioner, dan berorientasi pada pembangunan sumber daya manusia unggul,” ungkapnya.
Dalam forum tersebut, Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh takut memiliki mimpi besar di bidang pendidikan.
Menurutnya, pembangunan manusia harus menjadi prioritas utama bangsa melalui pendidikan terpadu yang menggabungkan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan, karakter, dan spiritualitas.
“Kalau kita ingin Indonesia menjadi bangsa besar, maka pendidikan harus dibangun dengan ide-ide besar. Pendidikan adalah investasi peradaban yang hasilnya akan dirasakan oleh generasi-generasi mendatang,” tegas Panji Gumilang.
Simposium juga menyoroti pentingnya pendidikan sebagai instrumen membangun ketahanan bangsa. Para peserta sepakat bahwa pendidikan masa depan tidak cukup hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga harus mengintegrasikan pendidikan karakter, kepemimpinan, teknologi, kewirausahaan, ketahanan pangan, lingkungan hidup, hingga toleransi sosial.
Seluruh hasil konferensi dan simposium nantinya akan dihimpun dalam sebuah buku besar atau memorandum pendidikan nasional yang akan disampaikan kepada Presiden Republik Indonesia serta para pemangku kebijakan sebagai kontribusi pemikiran menuju Indonesia Emas 2045 dan 100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.
Di akhir kegiatan, Caridin turut menyampaikan harapan agar perjuangan pendidikan yang digagas Al-Zaytun terus berlanjut.
“Semoga Syaykh Panji Gumilang selalu diberikan kesehatan dan kekuatan. Perjuangan pendidikan ini jangan sampai berhenti, karena pendidikan adalah jalan utama membangun masa depan bangsa yang lebih baik,” pungkasnya.
Penulis: redaksi
Editor: Redaksi Kerikil.id
Sumber: lognews.co.id – Diolah Redaksi

