Kerikil.id | Cirebon — Di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap isu nepotisme , Guru Besar Hukum Tata Negara dan Otonomi Daerah Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. H. Sugianto, SH, MH, mengingatkan pentingnya menjaga keadilan, integritas, dan profesionalitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Saat dimintai pandangannya di Cirebon, Kamis (7/5/2026), Prof Sugianto menilai masyarakat perlu memahami bahwa nepotisme bukan sekadar persoalan melibatkan keluarga atau kerabat dalam suatu pekerjaan maupun jabatan. Menurutnya, persoalan muncul ketika hubungan kedekatan dijadikan alasan utama untuk memperoleh posisi tertentu tanpa mempertimbangkan kemampuan dan kapasitas yang dimiliki.
“Jika seseorang dipilih bukan karena kompetensi, tetapi karena hubungan keluarga atau kedekatan tertentu, maka hal itu berpotensi menimbulkan ketidakadilan,” ujarnya.
Ia mengatakan praktik nepotisme dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap lembaga maupun institusi. Sebab, publik berharap setiap jabatan strategis diberikan kepada individu yang benar-benar memiliki kualitas, kemampuan, dan integritas.
Lebih jauh, Prof Sugianto juga menyoroti dampak sosial yang dapat muncul apabila budaya nepotisme terus dianggap hal biasa. Menurutnya, generasi muda yang berjuang melalui prestasi dapat kehilangan semangat ketika kesempatan lebih banyak diberikan berdasarkan hubungan personal dibanding kemampuan.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa tidak semua keterlibatan keluarga dapat langsung disebut sebagai nepotisme. Dalam usaha keluarga maupun organisasi tertentu, hal tersebut masih dapat diterima selama tetap mengedepankan profesionalitas, transparansi, dan aturan yang berlaku.
“Yang harus dijaga adalah keadilan dan keterbukaan. Jangan sampai hubungan keluarga menjadi alasan untuk mengabaikan hak orang lain yang lebih layak,” tegasnya.
Di tengah harapan masyarakat terhadap tata kelola yang lebih bersih dan berkeadilan, Prof Sugianto berharap semua pihak mampu membangun budaya kerja yang sehat, menghargai prestasi, serta memberikan kesempatan yang setara bagi setiap individu.
Baginya, masa depan bangsa tidak boleh ditentukan oleh kedekatan hubungan semata, melainkan oleh kualitas, integritas, dan kejujuran dalam menjalankan amanah.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi
Sumber: Keterangan dan pandangan Prof. Dr. H. Sugianto, SH, MH

