Kerikil.id | Indramayu — Di tengah hamparan permukiman dan lahan pertanian di Blok Sukamelang, Desa Karangmulya, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, terdapat sebuah makam tua yang hingga kini masih dijaga dan dihormati masyarakat setempat.
Makam itu dikenal sebagai makam Buyut Lasjan, sosok yang dipercaya sebagai tokoh pembuka alas atau perintis pemukiman di wilayah tersebut.
Bagi warga Sukamelang, makam Buyut Lasjan bukan sekadar tempat ziarah, tetapi juga ruang budaya yang menyimpan cerita leluhur, tradisi, dan kebersamaan yang diwariskan turun-temurun.
Menurut penuturan sesepuh setempat, Kasdi, Buyut Lasjan disebut merupakan putra dari Buyut Guder yang berasal dari wilayah Kemped, kawasan Indramayu bagian barat.
“Buyut Lasjan merupakan putra dari Buyut Guder yang disebut berasal dari wilayah Kemped di kawasan Indramayu bagian barat,” ujar Kasdi saat ditemui di area makam.
Atas perintah orang tuanya, Buyut Lasjan dipercaya datang ke wilayah Karangmulya untuk membuka lahan yang kemudian dijadikan tempat tinggal bagi keturunannya di masa mendatang.
Dalam perjalanan membuka lahan tersebut, Buyut Lasjan disebut menemukan sumber air berupa sumur atau balong yang kini berada tepat di depan area makam. Sumur itu hingga sekarang dikenal masyarakat dengan nama Sumur Taman Sari.
Bagi sebagian warga, Sumur Taman Sari bukan hanya sumber air biasa, tetapi juga bagian dari jejak sejarah dan tradisi masyarakat setempat.
Hingga kini, masyarakat masih menjaga tradisi tahlilan dan doa bersama setiap malam Jumat Kliwon di area makam Buyut Lasjan. Setelah doa bersama, para peziarah biasanya mengambil air dari Sumur Taman Sari sebagai bagian dari tradisi dan ikhtiar masyarakat untuk kelancaran usaha, pertanian, maupun kehidupan sehari-hari.
“Biasanya selesai tahlilan atau doa bersama, para peziarah mengambil air Sumur Taman Sari untuk ikhtiar kelancaran usaha, pertanian, maupun hajat lainnya,” kata Kasdi.
Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Sukamelang yang diwariskan lintas generasi. Tidak hanya menjaga hubungan dengan nilai-nilai leluhur, kegiatan itu juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga.
Selain tahlilan rutin, masyarakat Blok Sukamelang juga setiap tahun menggelar tradisi Unjungan Buyut Lasjan yang diisi syukuran dan pagelaran wayang kulit sebagai bentuk rasa syukur sekaligus upaya menjaga adat budaya setempat.
Tahun ini, tradisi Unjungan direncanakan digelar pada Selasa, 27 Oktober 2026, dengan menghadirkan pagelaran wayang kulit Langen Budaya bersama dalang H. Anom Rusdi.
“Insya Allah tahun ini Unjungan Buyut Lasjan akan dilaksanakan pada Selasa, 27 Oktober 2026 mendatang. Mudah-mudahan berjalan lancar dan tetap menjaga tradisi para leluhur,” ungkap Kasdi.
Di tengah perkembangan zaman yang terus berubah, warga Sukamelang berusaha menjaga peninggalan leluhur tersebut agar tidak sekadar menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai bagian dari identitas budaya dan kebersamaan masyarakat desa.
Penulis: Ade Nur
Editor: Redaksi
Sumber: Keterangan sesepuh setempat, Kasdi

