JAKARTA | Kebaya, busana tradisional yang sarat nilai sejarah dan estetika, kini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan oleh UNESCO. Pengakuan tersebut diumumkan dalam sidang Komite Antarpemerintah yang digelar di Paraguay, menandai langkah bersejarah bagi pelestarian budaya kawasan Asia Tenggara.
Penetapan kebaya ini menjadi istimewa karena diajukan secara bersama oleh lima negara, yakni Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Kolaborasi lintas negara ini dinilai sebagai wujud semangat kolektif dalam menjaga warisan budaya yang hidup di tengah keberagaman tradisi.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan, pengajuan bersama tersebut mencerminkan bahwa budaya mampu menjadi jembatan harmoni antarbangsa.
“Pengajuan kebaya secara bersama menunjukkan bahwa warisan budaya adalah perekat harmoni yang melintasi batas negara. Kebaya bukan hanya simbol, tetapi identitas bersama kita,” ujarnya dalam konferensi pers.
Menurutnya, kebaya tidak sekadar pakaian tradisional, melainkan representasi perjalanan panjang sejarah, seni, serta dinamika sosial masyarakat Asia Tenggara. Nilai filosofis yang melekat pada kebaya mencerminkan kesopanan, keanggunan, dan penghormatan terhadap tradisi.
Ia juga mengajak masyarakat untuk kembali mengenakan kebaya dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk pelestarian nyata, bukan sekadar simbol seremonial.
Pengakuan internasional ini diharapkan mendorong meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya sekaligus membuka peluang bagi pengembangan ekonomi kreatif. Kebaya dinilai memiliki potensi besar untuk tampil sebagai ikon fesyen global yang tetap berakar pada nilai tradisional.
“Pengakuan ini harus menjadi momentum untuk membawa kebaya ke arus utama mode dunia, sekaligus meningkatkan kesejahteraan para perajin dan pelaku budaya yang menjaganya tetap hidup,” tambahnya.
Dengan penetapan tersebut, kebaya kini tidak hanya menjadi kebanggaan nasional, tetapi juga warisan bersama umat manusia sehelai busana yang menyimpan cerita tentang persatuan, keindahan, dan harapan bagi generasi mendatang. (*)

