Kerikil id, Nganjuk – Pagi masih terasa lengang di Desa Salamrejo, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk, Kamis (2/4/2026). Di atas sebidang lahan yang belum sepenuhnya berubah bentuk, rencana besar sedang disiapkan pelan-pelan. Belum ada bangunan markas, belum berdiri gerbang batalyon, hanya tanah terbuka dengan fasilitas sederhana: sumur bor dan toilet sementara.
Namun bagi para prajurit, tempat itu sudah memiliki arti awal dari sebuah satuan baru bernama Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP) 933/Macan Wilis.
Kunjungan Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin bersama Danrem 081/DSJ Kolonel Arm Untoro Hariyanto hari itu menjadi penanda bahwa proses panjang pembangunan satuan telah benar-benar dimulai, bahkan sebelum tembok pertama didirikan.
“Hari ini bapak Pangdam ingin melihat langsung kesiapan pembangunan satuan,” kata Kolonel Untoro kepada awak media.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya tersimpan pekerjaan besar: membangun organisasi militer dari titik nol.
Sementara lahan markas masih menunggu pembangunan, kehidupan prajurit berlangsung di tempat lain, sebuah gedung bekas SMA Katolik Nganjuk
Sebanyak 535 prajurit menempati ruang-ruang kelas yang dahulu dipenuhi suara pelajaran. Meja belajar berganti fungsi, lorong sekolah menjadi jalur aktivitas militer, dan ruang yang dulu menjadi tempat siswa menatap masa depan kini menjadi tempat prajurit mempersiapkan pengabdian.
Di sana, rutinitas tetap berjalan apel pagi, latihan, hingga tugas-tugas pembinaan. Tidak ada kemewahan barak permanen, tetapi disiplin tetap dijaga seperti di satuan yang telah lama berdiri.
Bagi sebagian prajurit, masa transisi ini justru menjadi fase paling membekas ketika identitas satuan dibangun bukan oleh gedung, melainkan oleh kebersamaan.
Dalam peninjauan tersebut, perhatian Pangdam tidak berhenti pada rencana pembangunan fisik. Ia menaruh perhatian pada sesuatu yang tampak sederhana, namun menentukan keberlangsungan satuan dapur prajurit.
Kualitas makanan dan kebersihan peralatan memasak menjadi sorotan khusus. Pangdam menekankan agar standar gizi dan higienitas tetap dijaga sesuai ketentuan.
Langkah itu menunjukkan bahwa kesiapan militer tidak hanya diukur dari kekuatan personel atau fasilitas tempur, tetapi juga dari hal paling mendasar kesehatan prajurit.
Di lingkungan sementara yang masih beradaptasi, dapur menjadi ruang penting yang menjaga ritme kehidupan sehari-hari.
Yon TP 933/Macan Wilis dirancang sebagai bagian dari konsep Batalyon Teritorial Pembangunan, satuan yang diharapkan memperkuat peran TNI di tengah masyarakat melalui pendekatan pembangunan wilayah dan pembinaan teritorial.
Artinya, pembangunan satuan ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan proses membentuk kultur, solidaritas, dan kesiapan personel sejak awal.
Markas boleh belum berdiri, tetapi struktur pengabdian sudah berjalan.
Di tengah keterbatasan fasilitas, para prajurit belajar hidup bersama, menata ritme baru, dan menunggu hari ketika lahan kosong di Salamrejo berubah menjadi markas permanen.
Seperti banyak awal lainnya dalam sejarah militer, perjalanan Yon Macan Wilis tampaknya dimulai bukan dari bangunan megah, melainkan dari kesabaran menjalani proses.
Sebab sebelum sebuah satuan dikenal karena kekuatannya, ia terlebih dahulu ditempa oleh kesederhanaan.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi
Sumber: Diolah dari Rilis Korem 081/DSJ dan Kodam V/Brawijaya


















