Site icon KERIKIL.ID

MBG Hidupkan Harapan Warga Pesisir Indramayu, Bandeng dan Garam Jadi Andalan

Foto: redaksi

Kerikil.id | Indramayu – Suasana pesisir Desa Cemara Kulon, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, mendadak hidup sejak pagi, Jumat (22/5/2026). Di tengah hamparan tambak bandeng dan ladang garam, masyarakat berkumpul menyambut kedatangan Menko Polkam Jenderal (Purn) Djamari Chaniago bersama jajaran pejabat pusat dan Bupati Indramayu.

Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Di balik ramainya Balai Rakyat Indonesia Desa Cemara Kulon, tersimpan harapan besar agar hasil panen masyarakat pesisir Indramayu dapat menjadi bagian penting dalam rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk ratusan ribu anak.

Sejak pukul 07.00 WIB, perangkat desa, tokoh agama, pengurus RT/RW, unsur BPD, BUMDes, Karang Taruna, kelompok tani, PKK, hingga unsur MUI tampak memenuhi lokasi kegiatan. Warga menyambut hangat kedatangan rombongan pejabat pusat yang dinilai membawa perhatian besar terhadap potensi ekonomi lokal masyarakat pesisir.

Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua BGN sekaligus Pembina LMDH Jawa Barat, Letjen (Purn) Lodewyk Pusung, menyoroti besarnya potensi garam dan bandeng Indramayu sebagai bagian dari kebutuhan pangan Program MBG.

“Panen garam dan panen bandeng menurut saya penting, karena ini untuk mensuplai Makan Bergizi Gratis. Bandeng bisa buat lauk anak-anak,” ujar Lodewyk di hadapan warga.

Ia menjelaskan, kunjungannya ke wilayah tersebut dilakukan untuk memastikan rantai pasok program MBG tetap berjalan dengan baik, khususnya di Kabupaten Indramayu yang memiliki potensi besar di sektor pertanian, perikanan, dan peternakan.

“Saya melaksanakan kegiatan di sini karena kepentingannya untuk menjaga rantai pasok Makan Bergizi Gratis, khusus di Kabupaten Indramayu,” katanya.

Menurut Lodewyk, program MBG tidak hanya berbicara tentang pemenuhan gizi anak-anak, tetapi juga membuka peluang besar bagi pergerakan ekonomi masyarakat lokal. Ia berharap seluruh kebutuhan bahan baku program tersebut dapat dibeli langsung dari petani, peternak, nelayan, dan masyarakat sekitar tanpa melalui perantara.

“Harapannya MBG membeli bahan langsung dari petani dan peternak, bukan dari supplier, sehingga ekonomi masyarakat sini bisa bergerak,” tegasnya.

Saat ini, kata dia, di Kabupaten Indramayu telah terdapat sekitar 199 dapur MBG dengan jumlah penerima manfaat mencapai sekitar 470 ribu orang. Angka tersebut dinilai menjadi peluang besar bagi masyarakat lokal untuk terlibat langsung dalam mendukung program nasional tersebut.

Selain membahas potensi ekonomi, Lodewyk juga menyinggung pentingnya pengawasan kualitas makanan dalam pelaksanaan MBG. Menurutnya, program tersebut masih terus berkembang dan membutuhkan dukungan serta evaluasi bersama.

“MBG ini ibarat anak kecil usia satu setengah tahun yang masih belajar berjalan. Kalau ada kekurangan mari kita arahkan bersama,” ujarnya.

Ia meminta media dan masyarakat ikut mengawasi pelaksanaan program agar tetap berjalan sesuai tujuan. Jika ditemukan pengelola dapur atau mitra yang bekerja tidak maksimal, pihaknya siap melakukan evaluasi tegas.

“Kalau ada yang kurang benar tolong laporkan, nanti kami tegur. Kalau tidak berubah, kami tutup,” katanya.

Tak hanya itu, Lodewyk juga mengingatkan seluruh pengelola dapur dan mitra MBG agar bekerja dengan penuh kepedulian dan ketulusan demi masa depan anak-anak penerima manfaat.

“Anggap anak-anak itu anak kita sendiri,” pungkasnya.

Bagi masyarakat pesisir Cemara Kulon, kunjungan tersebut menjadi simbol harapan baru. Tambak bandeng, ladang garam, dan hasil bumi yang selama ini menjadi penopang hidup warga kini diharapkan tidak hanya menghidupi keluarga mereka, tetapi juga ikut mendukung pemenuhan gizi generasi masa depan Indonesia.

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi
Sumber: Liputan Langsung

Exit mobile version