SURABAYA | Peringatan Hari Radio Sedunia 2026 menjadi refleksi penting bagi dunia penyiaran untuk terus bertransformasi tanpa kehilangan jati diri. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh insan radio beradaptasi dengan kemajuan kecerdasan buatan (AI), sembari tetap menjaga etika jurnalistik dan kepercayaan publik sebagai fondasi utama penyiaran.
Dalam pernyataannya di Surabaya, Khofifah menegaskan bahwa di tengah derasnya disrupsi digital, radio masih menjadi medium yang bertahan karena kedekatan emosionalnya dengan masyarakat. Radio dinilai tetap relevan, terutama saat situasi darurat, di wilayah terpencil, maupun bagi komunitas yang membutuhkan informasi cepat, akurat, dan dapat dipercaya.
Tema global tahun ini, yang menyoroti relasi antara radio dan kecerdasan buatan, dinilai membuka peluang besar bagi inovasi penyiaran. Teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk memahami kebutuhan pendengar, memperkaya konten edukatif, hingga meningkatkan efektivitas distribusi informasi. Namun, Khofifah mengingatkan bahwa inovasi teknologi harus selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral dan profesionalisme insan media.
Menurutnya, kekuatan radio bukan hanya pada teknologi, melainkan pada suara manusia yang menghadirkan empati, kehangatan, dan kedekatan sosial sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa digantikan mesin. Tantangan terbesar media saat ini adalah menjaga kualitas, akurasi, dan kredibilitas di tengah arus informasi yang serba cepat.
Sebagai bagian dari peringatan tersebut, Khofifah bersama jajaran perangkat daerah mengunjungi RRI Surabaya untuk berdialog langsung dengan kru penyiaran. Ia menyampaikan apresiasi kepada radio lokal dan komunitas yang terus berperan aktif dalam menyebarkan informasi pembangunan, edukasi kebencanaan, literasi kesehatan, hingga penguatan ekonomi masyarakat membuktikan bahwa radio tetap menjadi jangkar kepercayaan publik di era digital.(*)


















