BANDUNG | Siapa sangka, di balik ketegasan barisan seragam cokelat, dentuman rebana dan lantunan selawat menggema penuh syahdu. Itulah suasana yang terasa di Markas Polda Jabar saat babak final Lomba Marawis Semarak Ramadhan digelar, Rabu (25/2/2026).
Bukan sekadar perlombaan, ajang ini menjelma menjadi ruang ekspresi spiritual sekaligus panggung kebersamaan bagi seluruh personel. Dari Satker hingga Polres jajaran, setiap tim tampil dengan semangat membara, memadukan kekompakan, teknik vokal, dan irama rebana yang menghentak namun menyejukkan.
Kehadiran Kapolda Jabar Rudi Setiawan semakin menyemarakkan suasana. Didampingi para Pejabat Utama, jenderal bintang dua itu tampak menikmati setiap penampilan. Sesekali ia tersenyum dan bertepuk tangan, memberi semangat kepada para finalis yang tampil penuh totalitas.
Atmosfer Ramadhan begitu terasa. Harmoni pukulan rebana berpadu dengan lantunan selawat menciptakan suasana religius yang hangat. Mapolda yang biasanya identik dengan aktivitas penegakan hukum, hari itu berubah menjadi ruang silaturahmi dan penguatan nilai-nilai keimanan.
Persaingan berlangsung ketat namun tetap menjunjung tinggi sportivitas. Dewan juri akhirnya menetapkan Sat Brimob Polda Jabar sebagai Juara Pertama berkat penampilan yang disiplin dan harmonis. Posisi Juara Kedua diraih Ditlantas Polda Jabar, sementara Biro SDM Polda Jabar menyabet Juara Ketiga. Ketiganya dinilai unggul dari sisi teknik, kekompakan, serta penghayatan.
Dalam sambutannya, Rudi Setiawan menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya tentang menang atau kalah, melainkan tentang memperkuat karakter dan kebersamaan.
“Ramadhan adalah momentum memperbaiki diri dan memperkuat solidaritas. Semangat yang terlihat hari ini harus terus kita bawa dalam tugas melayani masyarakat,” pesannya.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Jabar Hendra Rochmawan menyebut gema marawis di lingkungan kepolisian menjadi simbol keseimbangan antara profesionalisme dan spiritualitas.
“Di balik ketegasan tugas, ada jiwa-jiwa yang terus diasah nilai keimanan dan kebersamaannya. Inilah wajah Polri yang humanis dan religius,” ujarnya.
Final Lomba Marawis ini pun menjadi bukti bahwa Ramadhan mampu menghadirkan energi baru di tengah institusi. Rebana boleh berhenti berdentum, namun semangat kebersamaan dan pengabdian tetap menggema di Bumi Parahyangan. (*)


















