Kerikil.id | Indramayu – Setiap pagi, sebelum lonceng sekolah berbunyi, suasana hangat sudah terasa di gerbang SMAN 1 Losarang. Para guru berdiri menyambut satu per satu siswa yang datang.
Senyum, sapaan, dan jabat tangan menjadi pemandangan rutin yang sederhana, namun menyimpan makna besar dalam membangun karakter generasi muda.
Di tengah tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks, SMAN 1 Losarang memilih menanamkan nilai-nilai kehidupan sejak langkah pertama siswa memasuki lingkungan sekolah. Melalui program Pancawaluya, sekolah berupaya membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak, kedisiplinan, dan kepedulian sosial yang kuat.
Program yang merupakan gagasan Gubernur Jawa Barat tersebut bertujuan mencetak generasi muda yang cager (sehat), bageur (baik), pinter (cerdas), dan singer (mawas diri).
Kepala SMAN 1 Losarang, Ade Sumantri, S.Pd., mengatakan bahwa budaya menyambut siswa di gerbang sekolah menjadi salah satu implementasi nyata program tersebut yang terus dijalankan secara konsisten.
“Ketika anak-anak masuk ke lingkungan sekolah, itu dibiasakan untuk bersalaman dengan Bapak dan Ibu guru. Bapak dan Ibu guru menyambut di depan gerbang,” ujar Ade Sumantri saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, kebiasaan sederhana itu memiliki tujuan besar, yakni membentuk karakter santun dalam diri peserta didik sejak dini.
“Salah satunya adalah santun. Anak itu santun, hormat kepada orang tua, guru, dan sesama,” tambahnya.
Budaya bersalaman tersebut sebenarnya telah berjalan sejak tahun 2022, saat Ade Sumantri mulai memimpin SMAN 1 Losarang. Meski saat ini baru diterapkan secara maksimal pada saat kedatangan siswa di pagi hari, sekolah menilai kebiasaan itu telah memberikan dampak positif terhadap perilaku dan hubungan sosial peserta didik.
Tidak hanya fokus pada aspek kesantunan, nilai cager atau hidup sehat juga diwujudkan melalui berbagai kebiasaan positif di lingkungan sekolah. Salah satunya dengan menyesuaikan pola hidup siswa agar lebih disiplin sejak pagi hari.
Sejak diberlakukannya jam masuk sekolah pukul 06.30 WIB, para siswa dituntut untuk membiasakan bangun lebih awal dan mengatur waktu dengan lebih baik. Selain itu, sekolah juga menerapkan kebijakan pembatasan kendaraan agar siswa terbiasa berjalan kaki.
“Kendaraan itu harus minimal 500 meter dari sekolah. Jadi anak itu jalan, sudah dibiasakan untuk jalan kaki,” jelas Ade.
Kebijakan tersebut bukan sekadar aturan, melainkan bagian dari upaya membangun gaya hidup sehat sekaligus meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari.
Semangat Pancawaluya juga diwujudkan melalui pembiasaan menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Ke depan, SMAN 1 Losarang berencana menggelar lomba K3 (Kebersihan, Keindahan, dan Ketertiban) antar-kelas secara berkelanjutan. Program tersebut nantinya akan menjadi bagian dari penilaian keseharian siswa.
Langkah itu diharapkan mampu membangun budaya positif yang tidak hanya terlihat di lingkungan sekolah, tetapi juga terbawa dalam kehidupan sehari-hari para siswa di rumah dan masyarakat.
Bagi SMAN 1 Losarang, pendidikan sejati bukan hanya tentang nilai rapor dan prestasi akademik. Pendidikan adalah tentang membentuk manusia yang sehat, santun, disiplin, peduli, dan siap menjadi generasi penerus bangsa yang berkarakter.
Dari gerbang sekolah yang sederhana itu, harapan besar sedang ditanamkan. Sebab karakter baik tidak lahir dalam sekejap, tetapi tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi
Sumber: Rilis yang diterima redaksi dan Diolah

