Site icon KERIKIL.ID

Tetet Toet yang Tak Lekang Waktu: Berokan, Warisan Leluhur Pantura yang Menari Menolak Bala

Foto: Ade Nur/Min.co.id

Kerikil.id | Indramayu – Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan menggeser berbagai kesenian tradisional, suara khas “tetet toet… tetet toet…” masih sesekali menggema di pelosok Pantura Jawa Barat. Bunyi sompret yang nyaring itu menjadi penanda hadirnya Berokan Tetet Toet, kesenian rakyat warisan leluhur yang hingga kini tetap hidup di tengah masyarakat Indramayu dan Cirebon.

Di balik topeng besar menyerupai macan dengan mata melotot dan mulut lebar yang bisa membuka serta menutup, tersimpan cerita panjang tentang budaya, kepercayaan, dan kearifan lokal masyarakat pesisir utara Jawa Barat.

Sekilas, sosok Berokan memang mengingatkan pada Barongsai atau Barongan. Namun, kesenian ini memiliki karakter dan filosofi tersendiri yang lahir dari kehidupan masyarakat Pantura sejak puluhan bahkan ratusan tahun silam.

Dalam setiap pementasan, Berokan tampil lincah mengikuti irama kendang, gong, dan sompret. Gerakannya yang atraktif dipadukan tingkah lucu sering kali mengundang tawa penonton, terutama anak-anak yang antusias mengejar atau bahkan berinteraksi langsung dengan tokoh Berokan.

Di balik hiburan yang mengundang gelak tawa itu, tersimpan makna yang jauh lebih dalam.

Dalang Berokan, Wa A’ong, mengatakan kesenian tersebut berakar dari tradisi masyarakat terdahulu yang percaya bahwa Berokan merupakan simbol penolak bala dan penjaga keselamatan kampung.

“Orang tua dulu meyakini Berokan sebagai simbol penjaga dan penolak bala. Karena itu kesenian ini sering ditampilkan dalam acara adat maupun kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan keselamatan dan doa bersama,” ujar Wa A’ong saat ditemui di sela pementasan.

Menurutnya, bentuk kepala Berokan yang menyerupai harimau atau macan bukan tanpa alasan. Dalam kepercayaan masyarakat tempo dulu, hewan tersebut melambangkan kekuatan alam, keberanian, dan kewibawaan yang diyakini mampu mengusir energi negatif serta berbagai bentuk kesialan.

Tak hanya kepala yang memiliki filosofi, setiap bagian tubuh Berokan juga sarat makna. Mulai dari bentuk ekor, karakter wajah, kostum yang digunakan, hingga tradisi lempar bantal yang kerap menjadi bagian dari pertunjukan tradisional.

“Semua bagian dalam Berokan memiliki makna. Ada pesan tentang kehidupan, kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan hubungan manusia dengan alam sekitar,” kata Wa A’ong.

Dalam pementasannya, Berokan biasanya didampingi seorang laden atau pengiring yang bertugas berinteraksi dengan karakter utama. Kehadiran laden menjadi pelengkap yang menciptakan suasana hidup dan menghibur sepanjang pertunjukan berlangsung.

Salah satu ciri paling khas dari kesenian ini adalah suara sompret atau terompet tradisional yang menghasilkan bunyi unik “tetet toet”. Dari bunyi inilah masyarakat kemudian mengenal kesenian tersebut dengan sebutan Berokan Tetet Toet.

Namun bagi masyarakat Pantura, Berokan bukan sekadar tontonan rakyat.

Dalam berbagai kesempatan seperti ruwatan, kidung, syukuran, hingga ritual adat tertentu, pementasan Berokan sering kali disertai doa-doa khusus yang diwariskan turun-temurun.

“Kalau untuk ruwatan dan kidung biasanya ada doa-doa khusus sesuai tradisi yang dijalankan. Jadi Berokan bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari budaya dan nilai kehidupan masyarakat,” tutur Wa A’ong.

Kini, di tengah gempuran budaya populer dan hiburan digital, para pelaku seni tradisional terus berjuang menjaga eksistensi Berokan Tetet Toet agar tidak hilang ditelan zaman. Mereka meyakini bahwa menjaga Berokan berarti menjaga identitas budaya Pantura yang sarat nilai kebersamaan, spiritualitas, dan penghormatan kepada leluhur.

Bagi masyarakat Indramayu, suara tetet toet bukan hanya bunyi alat musik tradisional. Ia adalah panggilan sejarah, pengingat akar budaya, sekaligus napas warisan leluhur yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Kerikil.id
Sumber: Wawancara Dalang Berokan Wa A’ong dan Pelaku Seni Tradisional Pantura

Exit mobile version