Harapan Petani Mengalir dari Bendungan Cipancuh, BBWS Citarum Siapkan Langkah Selamatkan Sawah dari Ancaman Kekeringan

Oplus_16908288

Kerikil.id | Indramayu – Harapan ribuan petani di Kecamatan Haurgeulis kembali menguat setelah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum meninjau langsung kondisi Bendungan Cipancuh, Jumat (24/7/2026). Bendungan yang menjadi sumber irigasi utama bagi areal persawahan di wilayah tersebut kini menghadapi persoalan pendangkalan dan berkurangnya debit air, sehingga dikhawatirkan berdampak pada hasil panen musim tanam.

Kunjungan kerja itu dipimpin Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air BBWS Citarum, Julfi Fakhroni, didampingi Tenaga Ahli Kementerian Pertanian, Widyastuti Djumakking. Selain meninjau Bendungan Cipancuh, rombongan juga melihat sejumlah titik yang mengalami persoalan distribusi air irigasi di Kabupaten Indramayu.

Peninjauan dilakukan untuk mengetahui kondisi riil di lapangan sekaligus menyerap aspirasi masyarakat terkait ancaman kekeringan yang mulai dirasakan petani.

Di sela kunjungannya, Julfi mengatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengurangi risiko gagal panen. Salah satu yang menjadi prioritas ialah melakukan normalisasi sungai dan saluran irigasi agar distribusi air menuju lahan pertanian kembali lancar.

“Langkah pertama yang akan kami lakukan adalah melakukan normalisasi sungai dan saluran irigasi agar para petani terhindar dari risiko gagal panen,” ujar Julfi.

Selain saluran irigasi, BBWS Citarum juga menyoroti kondisi Bendungan Cipancuh yang mengalami pendangkalan. Menurut Julfi, aspirasi masyarakat mengenai perlunya pengerukan bendungan akan dibawa dan dibahas di tingkat pusat sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan program penanganan.

“Aspirasi warga ini akan kami sampaikan dan dibahas lebih lanjut agar diperoleh solusi yang tepat,” katanya.

Bagi masyarakat Haurgeulis, Bendungan Cipancuh bukan sekadar infrastruktur pengairan. Bendungan tersebut menjadi penopang utama kehidupan ribuan petani yang menggantungkan usaha taninya pada pasokan air dari waduk tersebut.

Warsono, tokoh masyarakat Desa Haurgeulis yang akrab disapa Ucok, mengatakan Bendungan Cipancuh selama ini mengairi lahan pertanian di sekitar sepuluh desa di Kecamatan Haurgeulis. Karena itu, berkurangnya kapasitas tampung bendungan menjadi kekhawatiran bersama.

“Bendungan Cipancuh merupakan sumber air utama yang mengairi sawah di sepuluh desa di Kecamatan Haurgeulis,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jika debit air terus menurun, dampaknya akan langsung dirasakan para petani, terutama saat memasuki musim tanam berikutnya.

“Kalau Bendungan Cipancuh kekurangan air, para petani bisa menghadapi risiko gagal panen,” kata Warsono.

Masyarakat berharap pemerintah segera merealisasikan program normalisasi Bendungan Cipancuh, bukan hanya pada saluran irigasinya, tetapi juga melalui pengerukan sedimentasi yang selama ini mengurangi daya tampung bendungan.

Warga berharap pekerjaan tersebut dapat dilakukan sebelum musim hujan tiba. Dengan kapasitas tampung yang kembali optimal, air hujan dapat disimpan lebih banyak sehingga pasokan irigasi pada musim tanam berikutnya tetap terjaga dan produktivitas pertanian tidak terganggu.

Hingga kini, BBWS Citarum menyatakan usulan normalisasi Bendungan Cipancuh masih akan dibahas lebih lanjut bersama instansi terkait sebagai bagian dari proses perencanaan penanganan infrastruktur sumber daya air.

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Kerikil.id
Sumber: Wawancara Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air BBWS Citarum.

Pos terkait