Kerikil.id | Indramayu — Persaingan dalam Pemilihan Kuwu Pergantian Antar Waktu (PAW) Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, telah berakhir. H. Ali Sodikin keluar sebagai peraih suara terbanyak dengan mengantongi 89 suara dalam pemilihan yang berlangsung Rabu (12/8/2026).
Kemenangan tersebut menjadi awal bagi Ali Sodikin untuk menjalankan amanah sebagai pemimpin desa. Namun, baginya, hasil pemilihan bukan alasan untuk membuat sekat antara warga yang memberikan dukungan dan mereka yang memilih kandidat lain.
Seusai pemilihan, Ali Sodikin menyampaikan rasa syukur sekaligus terima kasih kepada masyarakat, keluarga, serta pihak-pihak yang memberikan dukungan dan doa selama proses pencalonan.
“Pertama, saya mengucapkan syukur alhamdulillah atas terpilihnya saya. Terima kasih juga atas dukungan dan doa dari teman-teman, saudara, dan masyarakat yang sudah mempercayakan amanat kepada saya,” ujarnya saat ditemui di kediamannya.
Ia menyadari bahwa kemenangan tersebut membawa tanggung jawab yang tidak ringan. Kepercayaan masyarakat, menurutnya, harus diwujudkan melalui pelaksanaan visi dan misi yang telah disampaikan selama proses pencalonan.
Salah satu gagasan yang akan menjadi pijakannya adalah “Catur Saka Desa Eretan Kulon”, yang terdiri dari empat pilar, yakni optimalisasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), modernisasi pengairan, pengembangan industri rumahan, serta pembangunan infrastruktur berkelanjutan yang saling terhubung.
“Empat pilar tersebut itulah solusi untuk kemajuan Eretan Kulon yang akan datang,” katanya.
Kemenangan Berubah Menjadi Amanah
Bagi Ali Sodikin, terpilihnya sebagai Kuwu bukan sekadar kemenangan dalam sebuah kontestasi di tingkat desa. Setelah pemilihan usai, tanggung jawab terhadap masyarakat justru dimulai.
Ia mengaku bersyukur melihat antusiasme warga dalam mengikuti proses pemilihan dan memberikan dukungan.
“Alhamdulillah. Artinya, saya merasa sangat berterima kasih dan bersyukur masyarakat sangat antusias memilih saya. Mudah-mudahan apa yang diamanatkan masyarakat akan saya jaga dan saya emban benar-benar,” ungkapnya.
Ia juga menyadari bahwa pembangunan desa tidak mungkin hanya bertumpu pada seorang Kuwu. Pemerintahan desa, menurutnya, membutuhkan keterlibatan masyarakat dan berbagai unsur lainnya.
Karena itu, ia berencana membangun komunikasi dan kebersamaan dengan RT/RW, perangkat desa, masyarakat, serta unsur lainnya.
“Saya enggak bisa sendirian. Ayo bareng-bareng kita bangun Desa Eretan Kulon lebih baik dari sebelumnya,” tuturnya.
Setelah Beda Pilihan, Saatnya Bersama
Kini kontestasi PAW telah selesai. Perbedaan pilihan yang muncul selama pemilihan diharapkan tidak berubah menjadi perpecahan di tengah masyarakat.
Ali Sodikin menyatakan akan membuka diri dan merangkul seluruh warga Eretan Kulon, termasuk mereka yang tidak memberikan suara kepadanya.
Menurutnya, pilihan politik dalam kontestasi PAW merupakan bagian dari proses demokrasi. Setelah pemimpin terpilih, seluruh warga memiliki kedudukan yang sama sebagai bagian dari masyarakat desa.
“Saya akan merangkul semua masyarakat Eretan Kulon, baik itu yang memilih saya maupun yang tidak memilih saya,” tegasnya.
Ia pun berencana tetap menjaga hubungan baik dengan dua kontestan lainnya, yakni Kuwu Amin dan Kuwu Arif. Silaturahmi dengan keduanya akan dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga hubungan setelah persaingan berakhir.
“Walaupun tidak pada saat sekarang-sekarang, saya pasti dan pasti akan bersilaturahmi,” katanya.
Perolehan 89 suara akhirnya bukan sekadar angka kemenangan bagi Ali Sodikin. Setelah kontestasi berakhir, angka tersebut berubah menjadi titik awal bagi sebuah pekerjaan yang jauh lebih besar: menyatukan kembali masyarakat dan menerjemahkan kepercayaan warga menjadi kerja nyata untuk Desa Eretan Kulon.
Penulis: Wiwin Hidayat
Editor: Redaksi Kerikil.id
Sumber: Wawancara dengan H. Ali Sodikin seusai Pemilihan Kuwu PAW Desa Eretan Kulon, Rabu (12/8/2026)
