Kerikil.id | Indramayu – Satu unggahan di media sosial bisa selesai dalam hitungan detik, tetapi dampaknya belum tentu berhenti secepat itu. Persoalan inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam pelatihan jurnalistik yang diikuti siswa kelas X dan XI SMK Negeri Gantar, Kabupaten Indramayu, Kamis (10/9/2026).
Pelatihan yang berlangsung di Masjid sekolah tersebut tidak hanya membahas teknik menulis berita. Para siswa juga diajak memahami pentingnya akurasi, verifikasi, kode etik jurnalistik, serta etika menggunakan media sosial di tengah derasnya arus informasi digital.
Kepala SMK Negeri Gantar Saiful Juntan melalui Humas sekolah, Rizqoni Falakhi, mengatakan kemampuan menggunakan teknologi perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab dalam menggunakannya.
“Kami ingin siswa dan siswi SMK Negeri Gantar tidak hanya kompeten di bidang jurusannya masing-masing, tetapi juga memiliki literasi digital yang tinggi. Di era sekarang, jempol kita bisa menentukan masa depan,” ujar Rizqoni.
Menurut dia, siswa perlu memiliki kebiasaan menyaring informasi sebelum menyebarkannya, terlebih media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda.
Dalam pelatihan tersebut, sekolah menghadirkan praktisi media sebagai narasumber. Salah satunya Roby Cahyadi, Pemimpin Redaksi Fokus Pantura.com, yang membahas proses kerja jurnalistik, mulai dari menggali informasi hingga memastikan sebuah berita memiliki dasar fakta yang memadai.
Roby menekankan bahwa tanggung jawab terhadap informasi tidak hanya berlaku bagi wartawan. Pengguna media sosial pun memiliki tanggung jawab ketika meneruskan informasi kepada orang lain.
“Menjadi jurnalis atau bahkan sekadar menjadi netizen yang membagikan informasi, dasarnya sama, tanggung jawab. Kaidah jurnalistik dan kode etik adalah kompas agar kita tidak merugikan orang lain atau menyebarkan hoaks,” kata Roby.
Materi juga menyentuh aspek hukum yang berkaitan dengan pers dan aktivitas di ruang digital, termasuk Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers serta ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai informasi dan transaksi elektronik.
Selain Roby, pelatihan menghadirkan Kholil Ibrahim selaku CEO Pro Inbar.com dan Gunawan dari media Kerikil.id. Keduanya memberikan perspektif mengenai perkembangan industri media digital sekaligus peluang dan tantangan pengelolaan informasi di era media sosial.
Sesi diskusi kemudian menjadi bagian yang menarik perhatian siswa. Sejumlah peserta kelas X dan XI mengajukan pertanyaan mengenai kehidupan di balik ruang redaksi, cara wartawan memperoleh informasi, proses menghadapi narasumber, hingga risiko yang mungkin muncul ketika sebuah berita dipublikasikan.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa diskusi tidak sekadar pada teori menulis, tetapi juga pada persoalan yang dihadapi wartawan ketika melakukan peliputan. Para narasumber menjelaskan pentingnya ketenangan menghadapi tekanan, melakukan konfirmasi, menjaga keseimbangan informasi, dan tetap berpegang pada kode etik jurnalistik.
Bagi siswa, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa dunia jurnalistik bukan semata-mata soal membuat tulisan menarik. Ada proses mencari fakta, memeriksa informasi, mempertimbangkan dampak pemberitaan, serta memastikan informasi yang disampaikan tidak merugikan pihak lain tanpa dasar yang jelas.
Pelatihan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa di era ketika hampir setiap orang memiliki ruang publik melalui telepon pintar, kemampuan paling penting bukan sekadar cepat membagikan informasi, melainkan mampu berhenti sejenak untuk bertanya: benarkah informasi ini, dari mana sumbernya, dan apa dampaknya jika saya sebarkan?
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Kerikil.id
Sumber: Liputan Langsung
