Saat Haurgeulis Berjalan Bersama: Ribuan Warga Rayakan Kemerdekaan dalam Warna Budaya

Foto: Redaksi Kerikil.id
banner 468x60

Kerikil.id | Indramayu – Bukan hanya Merah Putih yang mendominasi Alun-Alun Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Senin (17/8/2026).

Pagi itu, berbagai warna pakaian, musik, tarian, dan identitas budaya tumpah ke jalan dalam Karnaval Gebyar Budaya Nusantara untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Ribuan warga memadati kawasan alun-alun setelah mengikuti dan menyaksikan upacara peringatan kemerdekaan tingkat Kecamatan Haurgeulis. Dari pinggir jalan, warga berdiri menyaksikan satu per satu rombongan peserta melintas membawa ciri khas budaya masing-masing.

Karnaval tersebut mempertemukan beragam komunitas yang hidup berdampingan di Haurgeulis. Ada Ikatan Keluarga Minang dan Padang (IKM), Pemuda Batak Bersatu (PBB), masyarakat keturunan Tionghoa, komunitas pemuda Arab, hingga masyarakat dari latar budaya Cirebon, Sunda, dan komunitas Jogya Haurgeulis.

Tidak ada satu budaya yang tampil sendirian. Semuanya berjalan dalam satu rangkaian perayaan yang sama.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah penampilan Tari Tortor. Gerakan khas Batak tampil di tengah kerumunan warga, disambut sorak dan tepuk tangan penonton.

Tak lama kemudian, perhatian warga beralih kepada kesenian Barongsai. Dengan gerakan lincah dan atraktif, Barongsai bergerak mengikuti irama musik yang mengiringinya. Anak-anak hingga orang dewasa terlihat antusias mengikuti pertunjukan dari sisi jalan.

Suasana semakin ramai ketika berbagai rombongan budaya berjalan beriringan melewati kawasan alun-alun.

Bagi warga, karnaval tersebut bukan sekadar tontonan untuk mengisi hari libur. Ada kesempatan untuk saling mengenal budaya yang selama ini hidup berdampingan di lingkungan mereka.

Camat Haurgeulis Rory Firmansyah melihat keberagaman tersebut sebagai bagian dari kekuatan masyarakat setempat.

“Karnaval Kebangsaan ini bukan sekadar hiburan tahunan. Momentum HUT RI ke-81 ini menjadi bukti nyata bahwa keberagaman etnis di Haurgeulis adalah kekuatan besar untuk membangun daerah secara gotong royong,” ujar Rory.

Dari sudut jalan, kemerdekaan pagi itu seolah memiliki wajah yang berbeda-beda. Ada yang datang dengan pakaian adat, membawa kesenian daerah, memainkan musik tradisional, atau sekadar berdiri menyaksikan karnaval bersama keluarga.

Namun semuanya bertemu dalam satu ruang dan satu perayaan Indonesia.

Haurgeulis menunjukkan bahwa keberagaman tidak selalu harus menjadi pembatas. Ketika diberi ruang untuk tampil dan saling menghargai, perbedaan justru dapat menjadi pertunjukan yang mempertemukan masyarakat.

Karnaval berlangsung hingga siang hari dalam suasana meriah dan penuh kekeluargaan. Setelah iring-iringan terakhir berlalu, alun-alun kembali berangsur lengang.

Tetapi warna-warni yang ditinggalkan karnaval itu membawa satu pesan yang lebih panjang dari sekadar kemeriahan 17 Agustus kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat yang berbeda dapat berjalan bersama pada hari ini.

Penulis:Redaksi
Editor: Redaksi Kerikil.id
Sumber: Peliputan langsung dan keterangan Camat Haurgeulis Rory Firmansyah, 17 Agustus 2026

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *