banner 728x250

Ning Lia Soroti Kesehatan Mental Anak sebagai Isu Strategis Bangsa

Anggota DPD RI, Lia Istifhama
banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA | Persoalan kesehatan mental anak dinilai tidak bisa lagi dipandang sebagai isu terbatas di lingkungan sekolah. Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menegaskan bahwa tantangan tersebut telah menjadi persoalan sosial yang berdampak langsung pada masa depan generasi dan arah pembangunan nasional.

Dalam keterangannya, senator dari Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia itu menyampaikan bahwa dinamika kehidupan anak-anak Indonesia saat ini semakin kompleks. Tekanan sosial, perubahan lingkungan, hingga tuntutan akademik dan non-akademik membentuk realitas baru yang membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen bangsa.

banner 325x300

Ia mencontohkan peristiwa tragis yang terjadi di Nusa Tenggara Timur sebagai refleksi mendalam bahwa negara tidak boleh berjalan sendiri dalam membangun ketahanan mental generasi muda. Menurutnya, penguatan karakter harus ditempatkan sebagai agenda strategis lintas sektor, bukan sekadar program parsial yang berjalan sendiri-sendiri.

“Yang kita hadapi bukan hanya persoalan individu, melainkan tantangan kolektif dalam mempersiapkan generasi yang mampu bertahan, beradaptasi, dan tetap memiliki harapan di tengah tekanan zaman,” ujar senator yang akrab disapa Ning Lia tersebut.

Perwakilan dari Jawa Timur itu memandang anak-anak Indonesia harus tumbuh dalam ekosistem yang sehat secara emosional. Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, kata dia, harus menjadi ruang aman yang memberi dukungan, bukan justru menambah beban psikologis.

Ia menekankan pentingnya sinergi antarkementerian dan lembaga dalam membangun sistem perlindungan yang menyeluruh. Pendekatan kurikulum saja dinilai tidak cukup tanpa pendampingan psikososial yang berkelanjutan dan mudah diakses.

Selain itu, Ning Lia menyoroti peran keluarga sebagai fondasi utama pembentukan mental yang kuat. Kehadiran orang tua dalam proses tumbuh kembang anak disebut menjadi faktor kunci dalam menciptakan ketahanan diri.

“Negara harus memastikan sistemnya hadir, tetapi masyarakat juga perlu membuka ruang empati. Anak-anak kita membutuhkan dukungan nyata, bukan sekadar wacana,” tegasnya.

Ia berharap lahir kebijakan yang lebih integratif antara sektor pendidikan, kesehatan, dan sosial di Indonesia, sehingga anak-anak memiliki akses terhadap layanan pendampingan mental yang layak, merata, dan berkelanjutan.

Menurutnya, membangun generasi yang kuat secara mental bukan sekadar tanggung jawab hari ini, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas bangsa di masa depan. (*)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *