Perguruan Tinggi Pencetak SDM, Bukan Pemberi Kerja. Sinergi Jadi Kunci

Foto: Redaksi
banner 468x60

Kerikil.id | Cirebon – Perguruan tinggi tidak semestinya hanya dipandang sebagai tempat memperoleh gelar akademik. Lebih dari itu, kampus memiliki tanggung jawab menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, adaptif terhadap perubahan zaman, serta mampu mengambil peran di tengah masyarakat dan dunia kerja.

Pandangan tersebut disampaikan Prof. Dr. Sugianto, SH., MH. saat dikonfirmasi melalui WhatsApp. Ia menyoroti pentingnya perubahan cara pandang terhadap fungsi perguruan tinggi.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Menurutnya, kampus bukan lembaga yang dibentuk untuk menyediakan pekerjaan bagi setiap lulusannya, melainkan institusi pendidikan yang memiliki tanggung jawab membentuk manusia berkualitas.

“Perguruan tinggi dibentuk untuk mencetak sumber daya manusia berkualitas, bukan untuk mencetak pengangguran dari kalangan sarjana,” demikian gagasan yang disampaikan Prof. Sugianto.

Persoalan lulusan perguruan tinggi, menurutnya, tidak cukup dijawab hanya dengan memperbanyak jumlah sarjana. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan ilmu dan kompetensi yang diperoleh selama masa pendidikan memiliki relevansi dengan kebutuhan kehidupan nyata.

Gelar akademik semestinya menjadi modal awal bagi seseorang untuk memasuki dunia profesional, mengembangkan usaha, menciptakan inovasi, maupun memberikan kontribusi di tengah masyarakat. Karena itu, kualitas lulusan menjadi jauh lebih penting dibanding sekadar banyaknya mahasiswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan.

Di sisi lain, perguruan tinggi juga memiliki keterbatasan. Kampus tidak mungkin menjadi pemberi kerja bagi seluruh lulusannya. Karena itu, persoalan penyerapan lulusan perlu dilihat sebagai tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Sinergi Kampus dan Dunia Kerja

Sinergi dan kolaborasi menjadi salah satu kunci untuk menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.

Perguruan tinggi perlu membangun hubungan yang lebih kuat dengan dunia usaha, dunia industri, pemerintah, organisasi profesi, maupun berbagai sektor masyarakat. Kolaborasi tersebut dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kompetensi yang dibangun di kampus dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Hubungan yang lebih erat juga memungkinkan kurikulum dan proses pembelajaran terus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Mahasiswa tidak cukup hanya dibekali pengetahuan teoritis, tetapi juga kemampuan praktis, kreativitas, komunikasi, pemecahan masalah, serta kemampuan beradaptasi.

Hal itu penting karena dunia kerja terus berubah. Kompetensi yang dibutuhkan hari ini belum tentu sama dengan kebutuhan beberapa tahun mendatang. Lulusan perguruan tinggi karena itu harus memiliki kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi.

Jangan Berhenti pada Gelar

Persoalan pengangguran terdidik menunjukkan bahwa gelar akademik semata tidak selalu cukup untuk menjamin seseorang memasuki dunia kerja.

Karena itu, keberhasilan perguruan tinggi seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya mahasiswa yang diterima atau jumlah wisudawan yang dihasilkan. Kualitas lulusan, relevansi kompetensi, kemampuan memasuki dunia profesional, serta kontribusi mereka kepada masyarakat juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.

Perguruan tinggi juga dapat mendorong mahasiswa agar tidak selalu berpikir bahwa setelah lulus mereka harus mencari pekerjaan. Pendidikan perlu menumbuhkan keberanian untuk menciptakan peluang, termasuk melalui kewirausahaan dan inovasi.

Dengan demikian, lulusan tidak semata-mata diposisikan sebagai pencari kerja, tetapi juga memiliki potensi menjadi pencipta lapangan pekerjaan.

Tanggung Jawab Bersama

Gagasan tersebut sekaligus menegaskan bahwa persoalan ketenagakerjaan tidak dapat dibebankan hanya kepada perguruan tinggi.

Kampus memiliki tugas utama membentuk SDM yang berkualitas. Pemerintah memiliki peran menciptakan ekosistem kebijakan dan ekonomi yang mendukung. Dunia usaha dan industri membutuhkan tenaga kerja yang kompeten sekaligus dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan keterampilan di lapangan.

Masyarakat juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendorong lahirnya generasi produktif, kreatif, dan mandiri.

Pada akhirnya, hubungan antara kampus dan dunia kerja tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Keduanya perlu dipertemukan melalui sinergi dan kolaborasi yang berkelanjutan.

Perguruan tinggi memang bukan pabrik lapangan pekerjaan. Namun, kampus memiliki posisi strategis untuk menyiapkan manusia yang mampu memasuki dunia kerja, menciptakan peluang baru, sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.

Ukuran keberhasilan pendidikan tinggi pada akhirnya bukan hanya berapa banyak toga yang dikenakan saat wisuda, tetapi seberapa jauh ilmu, kompetensi, dan karakter yang diperoleh lulusan mampu digunakan untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri dan produktif.

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Kerikil.id
Sumber: Pernyataan Prof. Dr. Sugianto, SH., MH. melalui WhatsApp

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *