Kisah Perjuangan Citra, Jangan Sampai Kalah oleh Sebuah Candaan

Foto: Dok Komnas Perlindungan Anak
banner 468x60

Kerikil.id | Jakarta — Di usia yang baru menginjak 10 tahun, Citra Nur Ramadhani seharusnya lebih dikenal karena keberaniannya menghadapi hidup, bukan karena kehidupan pribadinya menjadi bahan candaan di panggung kenegaraan.

Nama Citra mencuat dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI 2026 di Jakarta, Jumat (14/8/2026), ketika Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan siswi Sekolah Rakyat asal Pangkajene, Sulawesi Selatan, tersebut kepada hadirin.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Citra datang membawa kisah yang tidak sederhana. Ia nyaris berhenti sekolah ketika duduk di kelas 4 SD. Setelah ayahnya meninggal, Citra ikut membantu ibunya yang merupakan penyandang disabilitas berjualan kacang. Di tengah keterbatasan itu, ia tetap bersekolah dan bahkan mampu meraih prestasi sebagai juara karate tingkat kabupaten.

Kisah tersebut kemudian mendapat perhatian Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). Lembaga itu menilai perjalanan Citra merupakan gambaran tentang kegigihan seorang anak yang berusaha mempertahankan pendidikan dan mengembangkan potensinya meski menghadapi keadaan keluarga yang tidak mudah.

Program Sekolah Rakyat, yang membawa anak-anak dengan latar belakang seperti Citra ke ruang perhatian nasional, dinilai Komnas PA dapat menjadi bentuk pengakuan negara terhadap perjuangan anak-anak yang selama ini tumbuh di tengah berbagai keterbatasan.

Namun, perhatian Komnas PA kemudian tertuju pada bagian lain dari momen tersebut.

Ketika kisah Citra diperkenalkan dalam forum kenegaraan, muncul candaan Presiden mengenai kehidupan asmara Citra ketika kelak berusia 20 tahun. Candaan itu disambut tawa dan tepuk tangan dari sebagian hadirin.

Bagi Komnas PA, persoalannya bukan semata-mata pada ada atau tidaknya niat untuk bercanda. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana seorang anak ditempatkan ketika tampil di panggung publik yang sangat besar dan disaksikan masyarakat luas.

“Bagi Komnas PA, ini adalah kesempatan besar yang belum dimanfaatkan sepenuhnya. Forum sidang tahunan MPR adalah salah satu panggung tertinggi di republik ini disaksikan oleh seluruh pejabat negara, wakil rakyat, tamu undangan negara lain, dan jutaan rakyat Indonesia melalui siaran nasional,” kata Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Agustinus Sirait, S.E.

Menurut Agustinus, momen tersebut semestinya lebih banyak digunakan untuk mengangkat nilai kegigihan, tanggung jawab, serta prestasi Citra sehingga kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak lain di berbagai daerah.

Ia menilai kisah seorang anak yang tetap berjuang sekolah sambil membantu ibunya justru memiliki pesan sosial yang jauh lebih kuat untuk ditampilkan kepada publik.

Persoalan tersebut kemudian membawa diskusi pada satu hal yang lebih mendasar: bagaimana anak diperlakukan ketika menjadi bagian dari acara kenegaraan.

Bagi Komnas PA, anak tetap memiliki martabat dan hak atas ruang pribadi, meskipun sedang berada dalam forum resmi atau menjadi pusat perhatian publik. Menurut lembaga tersebut, anak tidak semestinya ditempatkan sebagai objek humor hanya karena suasana acara memungkinkan hal itu.

Menjadikan persoalan yang belum sesuai dengan usia anak sebagai bahan candaan di ruang publik, terlebih dalam acara yang disiarkan secara nasional, dinilai berpotensi membentuk anggapan bahwa kehidupan pribadi anak merupakan sesuatu yang wajar dibicarakan di depan khalayak.

Komnas PA menekankan bahwa kritik tersebut tidak diarahkan untuk menilai niat personal pihak yang menyampaikan candaan. Fokusnya adalah kepekaan dalam memilih cara berkomunikasi ketika seorang anak berada di tengah sorotan nasional.

Karena itu, Komnas PA mengingatkan pejabat publik, penyelenggara acara, maupun media agar memiliki kepekaan dan protokol komunikasi yang ramah anak ketika menghadirkan anak dalam forum resmi.

Kisah Citra sebenarnya sudah memiliki kekuatan tanpa perlu tambahan apa pun.

Seorang anak dari Pangkajene yang nyaris kehilangan kesempatan bersekolah, membantu ibunya mencari nafkah, tetapi tetap berlatih karate hingga berprestasi, telah memberikan pelajaran tentang keteguhan yang jauh lebih besar daripada sekadar tepuk tangan di ruang sidang.

Komnas PA pun membuka ruang dialog dengan instansi terkait untuk memberikan masukan mengenai panduan interaksi ramah anak dalam forum-forum kenegaraan.

Harapannya sederhana ketika seorang anak diberi kesempatan berdiri di panggung besar republik, yang ikut berdiri bersamanya bukan hanya namanya, tetapi juga cerita perjuangan, prestasi, dan masa depannya.

Sebab, Citra bukan sekadar anak yang diperkenalkan di hadapan para pejabat negara. Ia adalah gambaran bahwa di balik keterbatasan, masih ada anak-anak Indonesia yang terus berjuang untuk mendapatkan kesempatan.

Dan ketika negara memilih untuk menampilkan mereka di panggung nasional, maka penghormatan terhadap martabat anak semestinya menjadi bagian dari panggung itu sendiri.

“Melindungi anak tugas kita semua.”

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Kerikil.id
Sumber: Siaran Pers Komnas Perlindungan Anak,diolah redaksi

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *