banner 728x250
News  

Prof. Sugianto: Pendidikan Berasrama Harus Jadi Gerakan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045

Foto: Redaksi
banner 120x600
banner 468x60

Kerikil.id | Indramayu  – Di tengah derasnya arus perubahan global dan tantangan pembangunan sumber daya manusia, gagasan transformasi pendidikan berasrama kembali mengemuka sebagai salah satu solusi strategis untuk menyiapkan generasi unggul Indonesia di masa depan.

Pandangan tersebut disampaikan Prof Dr H Sugianto SH MH Guru besar HTN & OTDA UIN Siber syekh Nurjati Cirebon, dalam Simposium Konferensi Pendidikan Indonesia yang digelar di Mahad Al-Zaytun, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Minggu (31/5/2026).

banner 325x300

Menurut Prof. Sugianto, konsep pendidikan berasrama tidak boleh hanya diterapkan pada lembaga pendidikan keagamaan atau perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) di bawah Kementerian Agama. Model pendidikan tersebut juga perlu diwujudkan secara luas di lingkungan sekolah umum dan perguruan tinggi umum yang berada di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah maupun Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

“Transformasi pendidikan berasrama harus diwujudkan mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah hingga pendidikan tinggi. Bukan hanya di lingkungan Kementerian Agama, tetapi juga pada sekolah dan perguruan tinggi umum,” ujar Prof. Sugianto.

Baginya, pendidikan berasrama merupakan instrumen penting untuk membangun karakter, kedisiplinan, wawasan kebangsaan, serta kompetensi generasi muda yang akan menjadi tulang punggung bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

Meski diakui bukan pekerjaan mudah, Prof. Sugianto menegaskan bahwa cita-cita besar tersebut harus diwujudkan melalui sinergi dan kolaborasi seluruh elemen bangsa. Dalam hal ini, kehadiran negara menjadi faktor utama agar program tersebut dapat berjalan secara terstruktur, berkelanjutan, dan merata di seluruh Indonesia.

“Tujuan akhirnya adalah mencetak sumber daya manusia unggul. Memang tidak mudah, tetapi harus dilakukan melalui sinergitas dan kolaborasi. Negara harus hadir dalam mewujudkannya,” tegasnya.

Simposium yang mempertemukan para profesor / guru besar dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta diwilayah NKRI itu menjadi ruang intelektual untuk merumuskan desain pendidikan masa depan Indonesia. Berbagai gagasan, pengalaman, dan pandangan strategis dibahas sebagai kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.

Prof. Sugianto menilai gagasan yang diinisiasi oleh Ponpes Al-Zaytun tersebut sejalan dengan visi pembangunan nasional yang tertuang dalam program prioritas Asta Cita serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.

Menurutnya, penguatan pendidikan berasrama dapat menjadi salah satu langkah konkret dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, etos kerja tinggi, serta jiwa kepemimpinan yang dibutuhkan bangsa di masa mendatang.

“Ini merupakan program strategis yang mendukung Asta Cita dan RPJMN 2025–2029. Berbagai pemikiran para profesor yang hadir di Al-Zaytun menjadi energi besar untuk mewujudkan penguatan pendidikan berasrama di Indonesia,” katanya.

Di tengah tantangan revolusi teknologi, kecerdasan buatan, dan persaingan global yang semakin ketat, pendidikan berasrama dinilai mampu menjadi wadah pembentukan generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga kokoh dalam nilai moral, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Dari Indramayu, gagasan besar itu kini terus bergema, mengajak seluruh elemen bangsa untuk memandang pendidikan bukan sekadar proses belajar di ruang kelas, melainkan investasi peradaban yang menentukan wajah Indonesia pada masa depan.

Penulis: Achmad Suharya
Editor: Redaksi
Sumber: Keterangan Prof. Dr. H. Sugianto, S.H., M.H. dalam Simposium Kompetensi Pendidikan Indonesia di Ponpes Al-Zaytun Indramayu

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *