banner 728x250

Saat Lupus Datang Tanpa Wajah Jelas, Jakarta Perkuat Deteksi Dini untuk Selamatkan Pasien

Foto: Infopublik
banner 120x600
banner 468x60

Kerikil.id | Jakarta — Bagi sebagian orang, rasa lelah berkepanjangan, nyeri sendi, atau ruam di kulit mungkin dianggap keluhan biasa. Namun di balik gejala yang tampak sederhana itu, bisa saja tersembunyi Lupus, penyakit autoimun yang dikenal sebagai “penyakit seribu wajah”.

Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta kini memberi perhatian serius terhadap meningkatnya jumlah kasus Lupus yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

banner 325x300

Dalam webinar peringatan Hari Lupus Sedunia 2026, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes DKI Jakarta, Sri Puji Wahyuni, menegaskan pentingnya penguatan deteksi dini di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), termasuk puskesmas.

Menurut data BPJS Kesehatan, jumlah kasus Lupus yang terdeteksi di rumah sakit maupun FKTP mengalami peningkatan cukup signifikan.

Pada 2023 tercatat sebanyak 192.614 kasus. Jumlah itu meningkat menjadi 238.954 kasus pada 2024 atau naik sekitar 24 persen. Sementara pada 2025, angka kasus kembali meningkat menjadi 247.743 kasus.

Sri menjelaskan, peningkatan tersebut menunjukkan semakin banyak tenaga kesehatan yang mulai mengenali gejala Lupus. Namun di sisi lain, kondisi itu juga menjadi tantangan agar tenaga medis mampu melakukan diagnosis secara tepat.

“Penting bagi teman-teman tenaga kesehatan melakukan edukasi kepada masyarakat agar masyarakat tahu dan cepat mengakses layanan kesehatan,” ujarnya, Senin (11/5/2026).

Lupus dikenal sulit dikenali karena gejalanya kerap menyerupai penyakit lain. Banyak pasien baru menyadari dirinya mengidap Lupus setelah kondisinya memburuk.

Karena itu, edukasi dan skrining dini menjadi langkah penting agar pasien bisa mendapatkan penanganan lebih cepat sebelum kondisi pasien berkembang lebih serius.

Dinkes DKI Jakarta juga menyoroti tingginya risiko Lupus pada perempuan. Berdasarkan berbagai studi, perempuan memiliki kemungkinan 8 hingga 13 kali lebih tinggi terkena Lupus dibanding laki-laki.

Saat ini, program skrining pemerintah difokuskan pada perempuan usia 18 tahun ke atas melalui penggunaan kuesioner khusus di fasilitas kesehatan tingkat pertama, termasuk puskesmas.

Hingga April 2026, dari 943 warga yang menjalani skrining di puskesmas, sekitar 22,4 persen di antaranya dicurigai mengidap Lupus dan telah dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan.

Bagi para penyintas Lupus, deteksi dini bukan sekadar soal pemeriksaan kesehatan, tetapi tentang kesempatan untuk mempertahankan kualitas hidup.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta berharap seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama dapat semakin aktif melakukan skrining dan edukasi kepada masyarakat agar pasien tidak terlambat mendapatkan penanganan medis.

Di tengah meningkatnya kasus penyakit autoimun, langkah kecil berupa kesadaran mengenali gejala dan keberanian memeriksakan diri kini menjadi harapan penting agar lebih banyak pasien Lupus dapat memperoleh penanganan lebih cepat.

Penulis:Redaksi
Editor: Redaksi
Sumber: Infopublik – Diolah Redaksi

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *