BANDUNG | Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Kabupaten Bandung terasa berbeda. Tidak ada sekadar seremoni atau pidato panjang. Yang terlihat justru deretan paket sembako, senyum para lansia, dan obrolan hangat antara wartawan dengan warga di kampung-kampung.
Bersama Pemerintah Kabupaten Bandung, insan pers memilih merayakan HPN dengan cara sederhana namun bermakna turun langsung membantu masyarakat menjelang Ramadan 1447 Hijriah.
Kegiatan dimulai di Desa Gandasari, wilayah di Kecamatan Katapang. Sebanyak 250 paket sembako disalurkan kepada warga lanjut usia dan keluarga kurang mampu. Bagi mereka, bantuan itu bukan hanya soal kebutuhan pokok, tetapi juga perhatian yang jarang dirasakan.
Suasana haru terasa ketika para wartawan—yang biasanya sibuk mengejar narasumber kali ini justru menjadi pihak yang mengetuk pintu rumah warga.
Kegiatan kemudian berlanjut ke Desa Tribaktimulya, di Kecamatan Pangalengan. Selain kaum ibu dan masyarakat prasejahtera, bantuan juga diberikan kepada para pengemudi ojek pangkalan yang setiap hari menggantungkan penghasilan dari penumpang lokal.
Koordinator kegiatan, H. Asep Syahrial, yang akrab disapa Haji Awing, menegaskan bahwa insan pers ingin menghadirkan makna baru dalam peringatan HPN.
“Pers tidak hanya hadir melalui berita. Kami ingin hadir secara nyata, menyapa dan membantu masyarakat. Ini adalah bentuk kepedulian kami,” ujarnya.
Bagi para penerima manfaat, bantuan tersebut terasa istimewa karena datang menjelang bulan suci. Salah seorang pengemudi ojek pangkalan mengaku terharu karena perhatian yang diberikan insan pers membuat mereka merasa tidak sendiri dalam menghadapi kebutuhan Ramadan.
Mengusung semangat “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat,” kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pers bukan hanya pilar demokrasi yang mengawal informasi, tetapi juga bagian dari kekuatan sosial yang mampu menumbuhkan solidaritas.
HPN 2026 di Kabupaten Bandung akhirnya tidak hanya dikenang sebagai peringatan tahunan, melainkan sebagai hari ketika jurnalisme menyentuh kehidupan nyata mengabarkan sekaligus menguatkan. (*)
