News  

Perkuat Benteng Digital Lalu Lintas, Korlantas Polri Bahas Keamanan Data dalam FGD TIK 2026

JAKARTA | Transformasi digital di bidang lalu lintas kini memasuki babak krusial. Korlantas Polri menggelar Focus Group Discussion (FGD) Bagt TIK 2026 bertema “Keamanan Data dan Standarisasi Pengelolaan Data Center” di Fave Hotel PGC, Kamis (12/2/2026).

Kegiatan strategis ini dibuka oleh Kasubbag Anbangsistek Bag TIK Korlantas Polri AKBP Arief Sugihartono dan menghadirkan akademisi dari Universitas Indonesia, Setiadi Yazid, serta pakar keamanan siber Arya Adhi Nugraha.

AKBP Arief Sugihartono menegaskan bahwa di era digital, data bukan lagi sekadar arsip, melainkan aset bernilai tinggi yang menentukan kualitas pelayanan kepolisian kepada masyarakat.

“Pengelolaan data yang aman, terintegrasi, dan terstandarisasi bukan hanya kebutuhan operasional, tetapi juga tanggung jawab institusional dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, hampir seluruh layanan lalu lintas modern bergantung pada kekuatan infrastruktur digital, mulai dari sistem e-tilang, registrasi kendaraan, pengolahan data kecelakaan, hingga manajemen rekayasa lalu lintas berbasis analitik.

Artinya, keandalan data center menjadi “jantung” dari sistem pelayanan publik berbasis teknologi tersebut.

FGD ini menyoroti sejumlah isu utama yang harus segera diperkuat, antara lain, tantangan keamanan data dan ancaman siber, kepatuhan terhadap regulasi dan SOP pengelolaan data, tata kelola dan manajemen data center yang terstandar, kesiapan sumber daya manusia pengelola sistem, mekanisme penanganan insiden dan mitigasi risiko digital.

Arief menekankan bahwa tanpa tata kelola yang matang, kemajuan teknologi justru dapat membuka celah kerentanan baru.

Setiadi Yazid menilai pengembangan pusat data Korlantas yang terus berkembang harus diiringi dengan perencanaan strategis yang jelas—mulai dari siapa yang dilayani, apa kebutuhan sistem, hingga potensi ancaman yang dihadapi.

“Kita harus tahu tujuan ke depan, siapa yang dilayani, apa yang dimiliki, dan apa ancamannya. Dari situ baru bisa diuraikan lebih detail langkah pengembangannya,” jelasnya.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar pembangunan sistem tidak sekadar besar secara infrastruktur, tetapi juga tepat guna dan berkelanjutan.

Sementara itu, Arya Adhi Nugraha mengingatkan bahwa tren serangan siber kini meningkat sangat cepat—bahkan bukan lagi hitungan tahun, melainkan bulan hingga hari.

“Polri adalah institusi kritikal yang mencerminkan negara, sehingga harus menjaga aspek keamanan pada level paling tinggi karena risikonya juga tinggi,” tegasnya.

Ia menilai penguatan sistem keamanan harus berjalan seiring dengan pembaruan teknologi dan peningkatan kapasitas personel agar mampu merespons ancaman digital yang semakin kompleks.

Melalui FGD ini, Korlantas Polri menegaskan komitmennya membangun ekosistem pengelolaan data yang aman, modern, dan terpercaya sebagai fondasi pelayanan lalu lintas berbasis teknologi.

Langkah tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan efektivitas penegakan hukum dan pelayanan publik, tetapi juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap sistem digital kepolisian di tengah era transformasi menuju tata kelola berbasis data. (*)

Exit mobile version