Waspada, Luka Diabetes Tak Sama dengan Luka Biasa

ilustrasi

JAKARTA | Luka pada kulit kerap dianggap sebagai masalah ringan yang dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, kondisi tersebut berbeda bagi penderita diabetes. Luka kecil sekalipun dapat berkembang menjadi persoalan serius apabila tidak ditangani dengan benar.

Tingginya kadar gula darah pada penderita diabetes menyebabkan proses penyembuhan luka berjalan lebih lambat. Kondisi ini diperparah dengan menurunnya daya tahan tubuh serta kerusakan pembuluh darah dan saraf, sehingga luka menjadi lebih mudah terinfeksi dan sulit sembuh dibandingkan luka biasa.

Dilansir dari berbagai sumber, Minggu (13/7/25), terdapat sejumlah perbedaan utama antara luka diabetes dan luka pada umumnya. Dari sisi durasi, luka biasa biasanya sembuh dalam waktu satu hingga dua minggu. Sementara itu, luka diabetes dapat bertahan berminggu-minggu hingga berbulan-bulan meskipun telah mendapat perawatan rutin.

Perbedaan juga terlihat pada rasa nyeri. Pada luka biasa, nyeri umumnya sebanding dengan tingkat keparahan luka. Namun pada penderita diabetes, kerusakan saraf atau neuropati dapat membuat luka terasa minim nyeri atau justru menimbulkan rasa sakit berlebihan yang tidak sesuai dengan kondisi luka.

Risiko infeksi menjadi ancaman terbesar pada luka diabetes. Luka dapat mengalami pembengkakan, kemerahan, keluarnya nanah, bau tidak sedap, hingga perubahan warna menjadi kehitaman atau kebiruan akibat gangguan aliran darah. Jika tidak segera ditangani, luka diabetes berpotensi menimbulkan komplikasi berat hingga amputasi, terutama karena luka sering muncul di area kaki yang menjadi tumpuan tubuh.

Memahami perbedaan luka diabetes dan luka biasa menjadi langkah penting untuk deteksi dini dan pencegahan komplikasi. Penderita diabetes diimbau untuk lebih waspada dan segera mencari penanganan medis jika mengalami luka sekecil apa pun. (*)

Exit mobile version