JAKARTA | Di tengah gegap gempita perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, ada satu suara yang selalu terdengar paling riuh: tawa peserta yang terjatuh lalu bangkit lagi dalam balap karung.
Permainan tradisional ini mungkin terlihat sederhana, namun di balik karung goni dan garis finis, tersimpan semangat juang, sportivitas, dan kebersamaan.
Balap karung dimainkan dengan cara unik kedua kaki dimasukkan ke dalam karung hingga pinggang atau bahkan leher, lalu peserta melompat secepat mungkin menuju garis akhir. Tak ada langkah panjang, tak ada lari kencang. Yang ada hanya lompatan-lompatan kecil penuh perjuangan. Siapa paling gesit menjaga keseimbangan, dialah yang keluar sebagai pemenang.
Meski kerap identik dengan dunia anak-anak, balap karung justru menjadi ajang lintas generasi. Dari siswa sekolah, pegawai kantor, hingga orang tua, semua bisa larut dalam keseruan yang sama.
Permainan ini hampir selalu hadir dalam acara sekolah, pesta keluarga, hingga piknik warga menjadi magnet kebersamaan tanpa sekat usia maupun status sosial.
Lebih menarik lagi, balap karung kerap mencuri perhatian wisatawan mancanegara. Banyak dari mereka ikut melompat, tertawa, bahkan terjatuh bersama warga lokal. Kesederhanaannya justru menjadi daya tarik tanpa teknologi, tanpa biaya mahal, hanya semangat dan kegembiraan.
Di era digital yang serba cepat, balap karung mengajarkan satu hal penting: kebahagiaan tak selalu butuh kemewahan. Cukup karung, garis finis, dan semangat bersaing yang sehat.
Jadi, siap melompat? Karena balap karung bukan sekadar lomba—ia adalah warisan tawa yang menyatukan. (*)
