Kerikil.id | Indramayu – Di tengah peringatan Hari Lahir Pancasila yang sarat makna kebangsaan, sebuah gagasan besar tentang masa depan Indonesia lahir dari Ma’had Al-Zaytun, Indramayu. Bukan sekadar seminar akademik, forum yang mempertemukan para guru besar, cendekiawan, dan tokoh pendidikan nasional ini menjadi ruang perumusan cita-cita besar tentang bagaimana Indonesia membangun generasi abad mendatang.
Bertempat di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Senin (1/6/2026), Simposium Pendidikan Indonesia bertajuk “Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama yang Terintegrasi Demi Terwujudnya Indonesia Modern di Abad XXI dan Usia 100 Tahun Kemerdekaan” menjadi puncak rangkaian Konferensi Pendidikan Indonesia yang sehari sebelumnya digelar di Gedung Ali Ma’had Al-Zaytun.
Momentum penting itu ditandai dengan pembacaan Deklarasi Guru Besar dan Cendekiawan Indonesia oleh Syaykh Al-Zaytun, AS Panji Gumilang, S.Sos., M.P. Deklarasi tersebut berisi dukungan moral, akademik, dan kebangsaan terhadap gagasan pembangunan 500 pusat pendidikan nasional berasrama terintegrasi di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia.
Bagi para akademisi yang hadir, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi. Lebih dari itu, kualitas manusia Indonesia menjadi faktor penentu arah bangsa dalam menghadapi persaingan global abad ke-21 hingga abad ke-22.
“Pendidikan adalah investasi peradaban. Bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh kekayaan alamnya, tetapi oleh kualitas manusianya. Karena itu Indonesia tidak boleh takut memiliki ide besar dalam bidang pendidikan,” tegas Panji Gumilang di hadapan peserta simposium.
Menurutnya, pembangunan manusia harus menjadi prioritas utama bangsa. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus melahirkan generasi yang berintegritas, berkarakter, berjiwa kepemimpinan, dan memiliki keberanian menghadapi perubahan zaman.
Dalam deklarasi tersebut, para guru besar menilai pembangunan 500 pusat pendidikan berasrama merupakan langkah strategis untuk mempercepat pemerataan kualitas pendidikan nasional sekaligus memperkuat integrasi bangsa.
Konsep pendidikan berasrama yang diusulkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi menjadi pusat pembentukan karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, kesadaran hukum, nasionalisme, hingga spiritualitas dalam satu ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.
Forum juga menyoroti pentingnya penerapan konsep pendidikan berbasis L-STEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, and Spiritual) sebagai model pendidikan masa depan Indonesia.
Pendekatan tersebut diyakini mampu melahirkan generasi yang unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun tetap berakar pada nilai hukum, budaya, moral, dan spiritualitas.
Para profesor yang hadir sepakat bahwa tantangan masa depan akan semakin kompleks. Revolusi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), perubahan iklim, ketahanan pangan, energi masa depan, hingga kompetisi global menuntut lahirnya sumber daya manusia yang adaptif dan inovatif.
Karena itu, pendidikan vokasi, politeknik, teknologi terapan, serta riset berbasis kebutuhan bangsa menjadi bagian penting dalam transformasi pendidikan nasional yang diusulkan.
Tak hanya berbicara soal ruang kelas, para peserta simposium juga memandang pendidikan berasrama dapat menjadi laboratorium ketahanan pangan, pusat inovasi pertanian modern, sekaligus sarana membangun kemandirian ekonomi generasi muda Indonesia.
Namun demikian, forum tetap menekankan pentingnya menjaga aspek kemanusiaan dalam sistem pendidikan. Hak individu, privasi peserta didik, hubungan keluarga, serta pendekatan sosial yang sehat harus tetap menjadi bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan berasrama.
Dalam perspektif yang lebih jauh, para akademisi meyakini bahwa jika transformasi pendidikan ini dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan, Indonesia berpeluang menjadi salah satu pusat pendidikan global di kawasan Timur pada abad ke-22.
Seluruh hasil konferensi dan simposium tersebut nantinya akan dihimpun menjadi sebuah dokumen besar atau memorandum pendidikan nasional yang akan disampaikan kepada Presiden Republik Indonesia, lembaga legislatif, dan berbagai pemangku kebijakan sebagai kontribusi pemikiran strategis untuk pembangunan pendidikan nasional.
Di bawah kubah Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, gagasan besar itu lahir dengan satu harapan yang sama: menjadikan pendidikan sebagai jalan utama membangun manusia Indonesia yang unggul, berkarakter, dan mampu membawa bangsa ini menjadi peradaban besar dunia di masa depan.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi
Sumber: lognews.co.id – Diolah Redaksi


















