banner 728x250
News  

Di Balik Ancaman Hantavirus, Kemenkes Ajak Masyarakat Tetap Tenang dan Jaga Kebersihan

Foto: Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan R
banner 120x600
banner 468x60

 Kerikil.id | Jakarta – Di balik aktivitas sehari-hari yang tampak biasa, ancaman penyakit menular bisa datang dari hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian, termasuk keberadaan tikus di lingkungan sekitar. Karena itu, Kementerian Kesehatan RI kini terus memperkuat kesiapsiagaan terhadap penyakit akibat Hantavirus yang mulai mendapat perhatian dunia internasional.

Peningkatan temuan kasus di Indonesia serta laporan kasus Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) pada kapal pesiar MV Hondius membuat pemerintah meningkatkan pengawasan dan deteksi dini demi mencegah risiko penularan yang lebih luas.

banner 325x300

Meski demikian, pemerintah memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus HPS di Indonesia. Kasus yang terdeteksi masih berada pada kategori Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul Virus.

Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. Andi Saguni, mengatakan peningkatan laporan kasus justru menunjukkan sistem deteksi dan kewaspadaan kesehatan di Indonesia semakin berjalan baik.

“Perlu kami sampaikan bahwa sampai saat ini belum ditemukan kasus HPS di Indonesia. Kasus yang terdeteksi merupakan tipe HFRS dan terus kami pantau melalui sistem surveilans nasional,” ujar dr. Andi Saguni dalam konferensi pers daring, Senin (11/5/2026).

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sejak 2024 hingga Mei 2026 tercatat 256 kasus suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi HFRS yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Timur.

Menurut dr. Andi, meningkatnya temuan kasus tidak selalu berarti situasi semakin memburuk, melainkan menandakan kemampuan pemeriksaan laboratorium dan sistem deteksi dini kini semakin baik.

“Peningkatan kasus yang terlaporkan menunjukkan sistem deteksi dini kita semakin baik. Karena itu masyarakat diimbau tetap waspada terhadap faktor risiko penularan,” katanya.

Hantavirus diketahui dapat menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk dari urin, air liur, maupun kotorannya. Risiko penularan dapat meningkat di lingkungan yang kurang bersih, gudang tertutup, wilayah banjir, hingga aktivitas luar ruang seperti berkemah dan mendaki.

Selain melakukan pemantauan di dalam negeri, Kemenkes juga bergerak cepat merespons laporan internasional terkait satu kontak erat kasus HPS dari kapal pesiar MV Hondius yang berada di Indonesia. Pemeriksaan dilakukan di RSPI Sulianti Saroso dan hasilnya dinyatakan negatif untuk Hantavirus tipe HPS maupun HFRS.

“Begitu notifikasi diterima, kami langsung melakukan penyelidikan epidemiologi, koordinasi lintas sektor, pemeriksaan laboratorium, hingga pemantauan terhadap kontak erat tersebut,” jelas dr. Andi.

Untuk memperkuat kesiapsiagaan nasional, pemerintah juga meningkatkan pengawasan di pintu masuk negara melalui thermal scanner, pengamatan visual, serta sistem surveilans pelaku perjalanan. Selain itu, Kemenkes menyiapkan jejaring laboratorium pemeriksaan PCR dan Whole Genome Sequencing (WGS), serta memperkuat kesiapan 198 rumah sakit rujukan penyakit infeksi emerging di Indonesia.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap penyakit menular, Kemenkes mengingatkan masyarakat bahwa langkah sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan, menyimpan makanan di tempat tertutup, menghindari kontak dengan tikus, dan rutin mencuci tangan tetap menjadi perlindungan utama bagi kesehatan keluarga.

“Masyarakat diharapkan tetap tenang dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sebagai langkah utama pencegahan Hantavirus,” tutup dr. Andi Saguni.

Penulis: Achmad Suharya
Editor: Redaksi
Sumber: Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan RI – Diolah Redaksi

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *