Kerikil.id | Majalengka – Langkah kaki Bupati Majalengka, H. Eman Suherman, menyusuri setiap sudut Museum Talaga Manggung, Kamis (11/6/2026), seolah menjadi simbol bahwa sejarah dan budaya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan warisan berharga yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka mempererat silaturahmi sekaligus meninjau persiapan pelaksanaan tradisi sakral Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung Tahun 2026 serta kesiapan peresmian ruang baru Museum Talaga Manggung yang kini tampil dengan wajah dan konsep yang lebih representatif.
Kedatangan Bupati disambut hangat oleh Ketua Yayasan Talaga Manggung Simbar Kantjana, Rd. Apun Cahya Hendra, tokoh masyarakat Talaga sekaligus pegiat Museum Talaga Manggung H. Tatang (Abah Tatang), serta jajaran pengurus yayasan dan pengelola museum yang selama ini konsisten menjaga denyut sejarah di kawasan tersebut.
Dalam kunjungannya, Bupati Eman Suherman mengaku terkesan dengan transformasi Museum Talaga Manggung yang kini mengusung nuansa terakota dengan sentuhan arsitektur yang terinspirasi dari Candi Jiwa, Karawang. Menurutnya, konsep baru tersebut semakin memperkuat karakter museum sebagai ruang pelestarian peradaban dan identitas budaya Sunda.
“Museum ini memiliki potensi besar, bukan hanya sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, tetapi juga sebagai pusat edukasi, pelestarian budaya, dan destinasi wisata sejarah yang mampu mengangkat nama Majalengka di tingkat nasional,” ungkapnya.
Bagi Bupati, museum bukan sekadar bangunan yang menyimpan artefak, melainkan ruang yang menyatukan masa lalu dengan masa kini. Di tempat itulah generasi muda dapat belajar memahami akar sejarah dan menghargai perjuangan para leluhur yang telah membentuk jati diri daerah.
Salah satu benda yang menarik perhatian Bupati adalah sebuah pintu kuno yang kini difungsikan sebagai pintu utama Museum Talaga Manggung. Di balik bentuknya yang sederhana, pintu tersebut ternyata menyimpan jejak sejarah panjang yang telah menjadi objek penelitian para ahli sejak masa kolonial.
Kepala Balai Konservasi Cagar Budaya Talaga Manggung, Asep Asdha Singha Winata, menjelaskan bahwa artefak tersebut pernah diteliti oleh sejarawan Belanda Isidore van Kinsbergen pada tahun 1863 dan kembali diteliti oleh sejarawan Prancis Viviane S. pada tahun 1980. Berdasarkan hasil kajian tersebut, pintu bersejarah itu dikenal dengan nama Lawang Gede Pajajaran dan diperkirakan berasal dari abad ke-14.
Keberadaan artefak tersebut menjadi bukti bahwa Talaga Manggung memiliki keterkaitan erat dengan jejak sejarah dan peradaban besar di Tatar Sunda. Tidak hanya menjadi benda koleksi, Lawang Gede Pajajaran kini menjadi simbol penting yang menghubungkan masyarakat modern dengan akar budayanya.
Suasana semakin hangat ketika Bupati Majalengka berkesempatan mencoba seperangkat gamelan baru berupa replika Goong Renteng yang baru melengkapi koleksi museum. Alunan nada tradisional yang menggema di ruangan itu menghadirkan nuansa khas budaya Sunda, sekaligus menjadi pengingat bahwa seni tradisional harus tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi.
Gamelan berbahan perunggu tersebut merupakan kadeudeuh atau sumbangan dari Mayjen TNI (Purn.) H. Rd. TB Hasnuddin, M.M., sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian seni dan budaya warisan Talaga Manggung.
Tokoh masyarakat Talaga, H. Tatang atau yang akrab disapa Abah Tatang, berharap perhatian pemerintah terhadap Museum Talaga Manggung dapat terus ditingkatkan. Menurutnya, pelestarian budaya memerlukan sinergi seluruh elemen, baik pemerintah, komunitas budaya, maupun masyarakat, agar warisan leluhur tidak hilang ditelan zaman.
Kunjungan Bupati Majalengka kali ini tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga menghadirkan semangat baru untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya daerah. Dengan wajah baru museum, koleksi bersejarah yang terus dilestarikan, serta dukungan berbagai pihak, Talaga Manggung diharapkan mampu tumbuh menjadi episentrum kebudayaan sekaligus destinasi wisata sejarah unggulan yang membanggakan Kabupaten Majalengka.
Di tengah perubahan zaman, Museum Talaga Manggung mengingatkan bahwa sebuah daerah akan tetap memiliki masa depan yang kuat ketika mampu menjaga dan merawat jejak sejarah yang diwariskan para pendahulunya.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi
Sumber: Liputan Langsung


















