JAKARTA | Insiden protes seorang warga negara asing terhadap kegiatan tadarus pada malam pertama Ramadan di Dusun Gili Trawangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, menjadi perhatian publik. Video keberatan atas penggunaan pengeras suara saat tadarus berlangsung viral dan memantik diskusi soal batasan syiar dan kenyamanan bersama.
Menanggapi hal tersebut, Kementerian Agama Republik Indonesia menegaskan bahwa penggunaan pengeras suara di masjid dan musala telah memiliki pedoman resmi yang berlaku secara nasional.
Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, menyampaikan bahwa aturan tersebut tertuang dalam Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Surat Edaran Menteri Agama Nomor SE.05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.
“Penggunaan pengeras suara sebenarnya sudah ada pedomannya dalam SE Menteri Agama untuk mewujudkan ketenteraman, ketertiban, dan kenyamanan bersama. Jadi kalau tadarus sebaiknya menggunakan speaker dalam sesuai Surat Edaran tersebut,” ujar Thobib, Minggu (22/2/2026).
Dalam surat edaran yang diterbitkan 18 Februari 2022 itu, pengeras suara dibagi menjadi dua jenis, Pengeras suara dalam, difungsikan di dalam ruangan masjid atau musala, Pengeras suara luar, diarahkan ke luar ruangan.
Volume diatur sesuai kebutuhan dengan batas maksimal 100 desibel.
Sebelum azan Subuh, pembacaan Al-Qur’an atau selawat dapat menggunakan pengeras suara luar maksimal 10 menit. Untuk Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya, dibatasi maksimal 5 menit sebelum azan. Setelah azan, rangkaian salat, zikir, doa, dan kajian menggunakan pengeras suara dalam.
Khusus Ramadan, Salat Tarawih, ceramah, kajian, dan tadarus Al-Qur’an dianjurkan menggunakan pengeras suara dalam. Sementara takbir Idul Fitri dan Idul Adha diperbolehkan memakai pengeras suara luar hingga pukul 22.00 waktu setempat.
Pengaturan pengeras suara masjid bukan hanya diterapkan di Indonesia. Di Malaysia, khususnya Selangor, azan dan bacaan Al-Qur’an diperbolehkan menggunakan pengeras suara luar, sedangkan ceramah dibatasi di lingkungan masjid.
Di Arab Saudi, volume azan dan iqamah dibatasi tidak melebihi sepertiga kapasitas maksimal pengeras suara. Mesir sejak 2018 mengatur penggunaan speaker masjid karena dinilai terlalu keras. Bahrain memisahkan fungsi pengeras suara luar untuk azan dan pengeras suara dalam untuk kegiatan ibadah lainnya. Uni Emirat Arab membatasi volume azan maksimal 85 desibel.
Turki menggunakan pengeras suara luar untuk azan dan khutbah Jumat, sedangkan Suriah menggunakan pengeras suara luar untuk azan dan pengeras suara dalam untuk khutbah serta pengajian.
Kemenag menegaskan, pedoman ini bukan untuk membatasi syiar Islam, melainkan menjaga keseimbangan antara pelaksanaan ibadah dan ketenteraman masyarakat yang majemuk.
Pengurus masjid dan musala diimbau mematuhi ketentuan tersebut sebagai bagian dari upaya merawat harmoni sosial, terutama di kawasan wisata internasional seperti Gili Trawangan yang dihuni masyarakat beragam latar belakang.
Untuk informasi layanan dan regulasi resmi, masyarakat dapat mengakses portal Kementerian Agama melalui laman kemenag.go.id/layanan serta mengikuti saluran resmi Kemenag. (*)


















